LPSK Sebut Bharada E Baru Belajar Menembak, Kombes Budhi berbohong?

Wie, otonominews.co.id
Jumat, 05 Agustus 2022 | 20:00 WIB


LPSK Sebut Bharada E Baru Belajar Menembak, Kombes Budhi berbohong?
Bharada Eliezer (ant)

JAKARTA, (otonominews) – Pasca Bhayangkara Dua (Bharada) Eliezer atau Bharada E ditetapkan tersangka kasus pembunuhan Brigadir Joshua, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) angkat bicara perihal pengajuan perlindungan Bharada Eliezer.

Wakil LPSK Edwin Partogi Pasaribu menjelaskan, awalnya Bharada E bukan ADC (aide-de-camp) atau ajudan Irjen Ferdy Sambo.

“Sprin (surat perintah penugasan) Bharada E ini (menjadi) sopir,” ujar Edwin Partogi Pasaribu dalam keterangannya, dikutip Jumat (4/8/2022).

Edwin menepis isu yang berkembang di publik terkait dugaan Bharada E selaku sniper yang ahli menembak.

“Bharada E bukan sniper ahli tembak. Kan, ada banyak pemberitaan dia sniper, informasi yang kami peroleh dia tidak masuk standar itu bukan kategori penembak yang mahir gitu ajalah,” katanya.

LPSK juga memperoleh informasi tepercaya bahwa Bharada E baru memegang pistol pada November 2021. “Latihan menembak itu Maret 2022 di Senayan. Menurut informasi yang kami dapat, Bharada E bukan termasuk kategori mahir menembak,” tuturnya.

LPSK memperoleh informasi soal itu dari Bharada E. Saat menjalani pemeriksaan, Bharada E mengungkapkan ada delapan anggota Polri yang bertugas melekat dengan Irjen Ferdy Sambo. “Menurut Bharada E, tiga di antaranya adalah sopir,” ucap Edwin.

Dari pemeriksaan di LPSK itu pula Bharada E menyebut ajudan Ferdy Sambo ada dua polisi, yakni Brigadir J dan Brigadir Daden.

“J itu ADC. ADC yang cukup lama di Pak Sambo bersama Daden. Jadi, J sama Daden sudah melekat ke Pak Sambo dua tahun,” ujar Edwin.

Sebelumnya, Kapolres Jakarta Selatan non-aktif, Kombes Budhi Herdi Susianto pada 11 Juli 2022 menyatakan Bharada E jago nembak nomor 1 di Resimen Pelopor Korps Brimob dan juga pelatih vertical rescue.

“Kami juga melakukan interogasi terhadap komandan Bharada E, bahwa Bharada E ini sebagai pelatih vertical rescue dan di rensimen pelopornya dia sebagai tim penembak nomor 1 kelas 1 di resimen pelopor,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo menyebut Bharada E sebenarnya masih bisa dilindungi meski sudah tersangka.

“Dia (Bharada Eliezer) masih bisa dilindungi, asal Bharada E mau bekerja sama ( Justice Collaborator) membongkar dalang pembunuhan Brigadir Joshua,” tegasnya saat dihubungi media, Jumat (5/8).

Dikabarkan, Polri telah menetapkan tersangka Bharada Eliezer atas dugaan pembunuhan Brigadir Joshua. Bharada Eliezer dijerat Pasal 338 KUHP juncto pasal 55,56 KUHP.

Penetapan Bharada Eliezer usai penyidik melakukan gelar perkara dan mengantongi sejumlah barang bukti dugaan pembunuhan Brigadir Joshua.

Sementara itu, Irjen Ferdy Sambo resmi dicopot dari jabatan Kadiv Propam Polri dan dimutasi jadi perwira tinggi (pati) Pelayanan Markas (Yanma) Polri. Irjen Sambo digantikan oleh Irjen Syahardiantono yang sebelumnya menjabat sebagai Wakabareskrim Polri.

Pencopotan itu tertuang dalam Telegram itu diteken pada 4 Agustus 2022 bernomor ST:1628/VIII/KEP/2022.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membeberkan alasan terhambatnya upaya pengungkapan kasus kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan terdapat upaya perusakan dan penghilangan barang bukti yang dilakukan pihak-pihak tertentu.

"Tentunya memang kendala daripada upaya pembuktian adalah adanya barang bukti yang rusak atau dihilangkan," jelasnya dalam konferensi pers, Kamis (4/8).

Sebelumnya, Listyo mengatakan Inspektorat Khusus (Irsus) telah memeriksa 25 personel Polri terkait dugaan tidak profesional dalam menangani kasus kematian Brigadir J.

Dua puluh lima personel ini antara lain tiga jenderal bintang satu, lima Kombes, tiga AKBP, dua Kompol, tujuh perwira pertama, serta bintara dan tamtama sebanyak lima personel.

"Oleh karena itu terhadap 25 personel yang saat ini telah dilakukan pemeriksaan kita akan menjalankan proses pemeriksaan terkait dengan pelanggaran kode etik," katanya.