Menko Airlangga: Peluang Indonesia Masuk ke Jurang Resesi Sangat Kecil

Husnie, otonominews.co.id
Kamis, 04 Agustus 2022 | 07:22 WIB


Menko Airlangga: Peluang Indonesia Masuk ke Jurang Resesi Sangat Kecil
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

JAKARTA, (otonominews) – Menteri  Koordinator (Menko) Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, peluang Indonesia untuk masuk ke jurang resesi sangat kecil, hanya 3 persen. Perekonomian Indonesia tetap kuat ditopang oleh indikator makro yang positif dan ditopang ekonomi domestik. 

Berdasarkan leading indicator CEIC seperti keuangan moneter, pasar tenaga kerja dan industri, perekonomian Indonesia masih diperkirakan menguat. Bahkan Indonesia berada di bawah indikator 100, sehingga jauh dari sinyal resesi.

Tidak hanya akan minim resiko resesi, dengan berbagai indikator perekonomian yang positif di tengah ancaman krisis global maupun stagflasi, pemerintah optimis, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan berada pada kisaran 5,3% hingga 5,9%. 

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi kita di 2022 ini masih optimis di 5,2% dan diharapkan di 2023 kita bisa tingkatkan antara 5,3% hingga 5,9%," kata Menko Airlangga yang juga Ketua Umum Partai Golkar ini, Rabu (3/8/2022). 

Probabilitas Indonesia untuk masuk ke jurang resesi diakui sejumlah Ekonom sangat kecil. 

Menurut Airlangga, jika dilihat dari dari indikator makro ekonomi, kondisi indonesia lebih baik di antara emerging market lain yang mengalami resesi seperti El Salvador, Srilangka, dan Ghana, yang kondisinya ada tekanan. 

Ekonom Bank BCA David Sumual mengatakan, meski hutang Indonesia ada peningkatan, terutama utang pemerintah, tetapi diimbangi windfall profit dari komoditas.

"In blessing in disguise di kala negara lain bermasalah, karena kenaikan komoditas kita justru dapat extra,” kata David kepada para wartawan, Rabu (3/8/2022).

David menyatakan, kekuatan ekonomi domestik adalah penopang perekonomian nasional. 

“Kita ekonomi 60 persen ditopang domestik, saya tidak khawatir ada resesi atau stagflasi global karena domestic economy kita besar sekali. Malah  ini kesempatan untuk mendorong substitusi impor. Kalau ada barang yang sulit kita dapat,” ucap David. 

Selain itu, lanjut David, iklim investasi di Indonesia juga kian menggeliat. Semenjak pandemi, masyarakat mulai terbiasa dengan kebiasaan berinvestasi.

“Saya lihat peranan domestik cukup baik, untuk SBN,  perlu pendalaman finansial kepada masyarakat supaya terbiasa untuk investasi di pasar modal,“ kata David. 

Meski begitu, tutur David, ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga momentum perekonomian nasional tetap positive, yaitu menjaga inflasi dan daya beli masyarakat, likuiditas valas juga stok pangan. 

“Pasokan pangan dalam negeri, karena kita lihat harga pupuk meningkat ada kekhawatiran cuaca ada perkiraan banyak ahli bahwa kita akan masuk ke El Nino, karena tahun ini basah, tahun depan biasanya sekarang lebih kering. Pangan terutama beras harus bisa diperhatikan,” tandas David Sumual.

Hal senada diungkapkan Direktur Utama BRI Research Institute Anton Hendranata mengatakan, kemungkinan Indonesia mengalami resesi di 2023 hanya 2%. 

“Indonesia kemungkinan resesi tahun 2023 hanya 2% dengan metode markov switching dynamic model. Hal tersebut karena perekonomian indonesia ditopang sangat kuat oleh permintaan domestik. Selain itu pasar financial dan valas indonesia cenderung robust dari gejolak eksternal dibandingkan masa lalu,” pungkas Anton Hendranata.