Pelet Pabrikan Mahal, Petani Lele di Bekasi Beralih ke Pakan Mandiri

hen, otonominews.co.id
Rabu, 03 Agustus 2022 | 06:49 WIB


Pelet Pabrikan Mahal, Petani Lele di Bekasi Beralih ke Pakan Mandiri
Emit, warga Kota Bekasi penggagas Pakan Mandiri.

BEKASI  - Dampak pandemi Covid-19 masih dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Begitu pula yang dirasakan para pelaku usaha budi daya ikan lele. Beberapa tahun ini petani lele yang melakukan pembesaran ikan lele terhantam dengan tingginya harga pakan lele atau pelet yang semakin hari harganya terus naik.

Jika dihitung-hitung dengan harga jual, harga pelet pabrikan yang begitu tinggi akan merugikan petani lele. Pasalnya, antara cost pemeliharaan dengan harga jual, tidak seimbang, dan jatuhnya rugi.

Hal ini menjadi pemikiran salah satu petani lele di Mustikasari Kota Bekasi Jawa Barat, Emit Sugiarto.

"Harga pakan pelet pabrikan naik terus, kalau terus-terusan bisa bangkrut, karena tidak bisa untung dari penjualan. Makanya perlu ada solusi agar petani lele tidak ketergantungan kepada pelet pabrikan," ungkap Emit. 

Emit mengatakan, dirinya berusaha membuat pakan lele pelet dengan bahan yang mengandung protein nabati, agar tidak ketergantungan pada pelet pabrikan. Tentu saja dengan modal mesin giling pelet. Bahan yang ia gunakan, antara lain dedak katul, tepung jagung dan tepung ikan rucak. Dengan bahan-bahan tersebut maka terpenuhi protein hewani dan nabati pelet dan layak untuk pakan pembesaran lele. Hasilnya pun bisa dikonsumsi oleh lele peliharaannya, sehingga ia pun selamat dari meroketnya harga pelet pabrikan.

Berhasil dengan percobaannya, Emit pun bergabung Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) 

Bersinergi dengan P2MKP, Emit mengajak para petani lele di Kota Bekasi menggunakan pakan mandiri agar bisa lebih efektif dalam pembesaran ikan lele, sehingga tak terlalu berpengaruh dengan lonjakan harga pelet pabrikan.

Emit yang dipercaya menjadi Ketua PPMKP Kota Bekasi ini mengatakan, harga pelet pabrikan saat ini terkesan kenaikan bisa terjadi seminggu dua kali. Terlebih kondisi ini sudah banyak dikeluhkan para petani budidaya lele, lantaran sudah sulit untuk mendapatkan keuntungan dengan tingginya harga pelet tersebut.

Disinilah Emit mendorong petani lele mulai banting stir untuk meninggalkan pelet pabrikan dan beralih ke pakan mandiri.

"Di Mustikasari ini banyak petani pembesaran lele, sekarang mereka sudah menggunakan pakan mandiri," katanya

"Harga pakan mandiri dengan pelet memang jauh beda, bisa dua kali lipat. Jika pelet pabrikan bisa 12,000/kg, maka pakan mandiri hanya Rp6,000/kg, dengan kandungan protein yang sama," imbuhnya.

Emit mengungkapkan, sebelum berinisiatif membuat pakan mandiri untuk lelenya, ia sempat mencoba dengan menggunakan limbah tiren, lantaran tidak sanggup beli pelet pabrikan. 

"Tapi ternyata pakan limbah itu bukan solusi, dan membahayakan bagi yang mengkonsumsi," ujarnya.

Maka ia pun menyarankan kepada para petani lele agar jangan pernah memberikan pakan limbah untuk ikan lele.
 
Tak hanya sekedar menyarankan, namun Emit dan P2MKP memberikan pelatihan kepada para petani lele tentang cara membuat pakan mandiri. Mulai dari pengenalan bahan baku, komposisi, pengolahannya sampai pencetakannya hingga menjadi pelet.

Tak kaleng-kaleng, lanjut Emit, pelatihan yang diberikan bersama P2MKP Kementerian KKP yang disebut CPIB, atau Cara Pembudidayaan Ikan yang Benar itu bersertifikat ISO. Emit mengaku, dari sekitar 200 petani budidaya lele di Kota Bekasi, yang menggunakan pakan mandiri 50 petani.