Adi Supriadi: Aneh, Fenomena Wabah Virus PMK Pada Binatang Ternak Pas 2 Bulan Jelang Hari Raya Qurban!

Husnie, otonominews.co.id
Senin, 16 Mei 2022 | 17:56 WIB


Adi Supriadi: Aneh, Fenomena Wabah Virus PMK Pada Binatang Ternak Pas 2 Bulan Jelang Hari Raya Qurban!
Analis dan Pengamat Masalah Sosial Politik dan Keagamaan, Adi Supriadi

JAKARTA, (otonominews) -- Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK mulai semakin mewabah di Indonesia, Menariknya untuk dilihat adalah fenomenanya baru ramai tanggal 3 Mei 2022 sehari setelah Idul Fitri, dan 2 bulan jelang Idul Adha. PMK atau dikenal juga sebagai Foot and Mouth Disease (FMD) dan Apthtae Epizooticae adalah penyakit hewan menular bersifat akut yang disebabkan virus.

Analis dan Pengamat Masalah Sosial Politik dan Keagamaan, Adi Supriadi menilai seperti ada yang aneh dengan kondisi ini, Aneh karena mengapa hebohnya sehari setelah idul fitri dan 2 bulan jelang Idul Adha atau Hari Raya Qurban. 

“Aneh Aja, Ini seperti teror yang dapat mematikan usaha para peternak, siapa yang membuat ini, sebenarnya sangat mudah terbaca, jika berkaca dengan kasus-kasus serupa terkait Issu massif di Indonesia," ujar Adi Supriadi. 
 
Aktivis dan Penggiat Media Sosial ini juga menuliskan analisanya di Account Twitternya @coachaddie_off pada Senin, 16 Mei 2022 dengan menyatakan bahwa Virus dan Bakteri apapun bisa diriset dan bisa dibuat dan bisa disebarkan sesuai kebutuhan mereka yang memiliki kepentingan terhadap virus dan bakteri ini. 

Motifnya adalah pembatasan distrubusi hewan ternak petani antar daerah, sehingga ada keterbatasan stok hewan ternak di daerah-daerah tertentu.

“ Virus dan Bakteri itu bisa dikreasikan oleh Tim Peneliti yang ahli dalam bidangnya, bukan serta merta datang dari Tuhan, tetapi bisa manusia ciptakan karena masuk ranah Sains, Kondisi inilah di berbagai Negara menjadikannya sebagai alat ekonomi untuk membuat Pemilik Modal hasil Riset tersebut menjadi kaya-raya, sehingga dengan kekayaannya bisa mengendalikan Pengelola Negara baik di Level Nasional maupun Daerah," papar Adi masih di Account Media Sosialnya.  

Seperti diketahui bahwa ciri-ciri hewan yang terpapar PMK yaitu mulut berbusa, dan berliur kemudian suhu tubuh hewan mencapai 41 derajat celcius, dan hewan cenderung sering rebahan. Dampaknya bisa menyebabkan hewan mati, karena tidak nafsu makan dan berdiri tidak bisa karena kaki sakit.

“Siapa yang punya kepentingan terhadap menyebarnya virus ini, Jelas mereka pemilik modal dalam hal Impor Sapi, Cukong-cukong Impor yang merasa terganggu atau tidak mendapatkan keuntungan maksimal jika dalam Perayaan Hari Qurban banyak Ummat Islam yang berqurban hanya membeli dari peternak kampung, atau hasil Peternakan Lokal," jelas Adi Supriadi lagi. 
 
Adi Supriadi Melanjutkan bahwa dengan adanya virus PMK ini yang dapat membuat binatang ternak mati atau sakit yang tidak mungkin jadi hewan yang akan dikurbankan maka dengan otomatis hewan ternak akan mahal, kekhawatirannya Para Pequrban juga tinggi, turunnya tingkat kepercayaan Pembeli Hewan Qurban pada Peternak lokal, jika kasus kematian hewan qurban terus meningkat. 

“Dampak buruknya adalah Hewan ternak menjadi langka, Peternak lokal tidak bisa menjual hewan ternaknya, Para Pequrban turun drastis mengalami ketakutan dan tidak percaya pada hewan ternak dari Peternak lokal, saking mahalnya nanti Para Pequrban membatalkan niat berkurbannya, otomatis Peternak rugi, dan Ummat Islam mengalami kerugian," sebut Adi Supriadi. 

Ketika hewan ternak langka dan mahal, peternak lokal akan menurun penjualannya, disisi lain kaum Oligarki dengan para Cukong Impor yang diduga dibalik penyebaran wabah ini, memberikan alternatif “Binatang Ternak Sehat” hasil Impor dari Negara lain, Dalam hal ini Pemerintah melalui Kementerian Pertanian, Menteri Perdaganghan dan Bulog menyatakan telah membuat alternatif bagi Para pequrban yang mau berkurban pada Idul Adha 1443 H. 

“Semua ini mamang bisnis, Virus itu bisnis, Vaksin itu bisnis, kelangkaan kebutuhan pokok itu bisnis, lagi-lagi Petani dan Peternak pribumi gigit jari, mengalami kerugian dan pemiskinan secara massif dan struktural, belum lagi modal pengembangbiakan Hewan Ternak Potong sangat mahal, baik pakan, jamu atau vitamin buat hewan ternak tersebut,"  katanya. 
 
Kondisi ini sudah seperti lingkaran seten di Negeri yang Oligarki, dimana Pengelola Negara diduga bekerja untuk kaum Oligarki berdasarkan perjanjian Pemilu antara Pemilik modal, Pengelola Negara dan Ilmuwan yang serakah dalam hidupnya. 

“Kita hanya bisa berserah diri kepada Allah SWT dalam kondisi sepetti ini, Bukan pesimis tetapi sulit untuk Nasib Bangsa ini berubah ketika Pengelola Negara dari tingkat Nasional sampai dearah dikendalikan oleh para Pengusaha/Cukong yang membiayai politik mereka sebelum menjabat," tutupnya.