Tiga Partai Politik Bentuk Koalisi Indonesia Bersatu, Akan Goyang Sebelum Pemilu 2024?

Wie, otonominews.co.id
Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:09 WIB


Tiga Partai Politik Bentuk Koalisi Indonesia Bersatu, Akan Goyang Sebelum Pemilu 2024?
Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto,Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa, dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di Rumah Heritage Jakarta, Kamis (12/5/2022). (ANTARA)

JAKARTA, (otonominews) -- Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sudah mengumumkan kesepakatannya dengan nama Koalisi Indonesia Bersatu untuk menghadapi Pemilu 2024, khususnya Pilpres.

Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily mengatakan, ketiga partai politik telah memiliki pengalaman dalam pemerintah dan dalam dinamika politik bangsa.

"Dengan visi partai yang dimilikinya dan berbagai pengalaman politik, kesemuanya bersepakat untuk menyatukan diri membangun koalisi yang disebut Koalisi Indonesia Bersatu," kata Ace Hasan dalam keterangannya, Jumat (13/5/2022).

Meski Pemilu 2024 masih dua tahun lagi, jelasnya, komitmen kerjasama tersebut mengisyaratkan adanya keseriusan untuk membangun platform, gagasan dan ide yang disepakati bersama dalam perjuangan melanjutkan pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Menurut Ace, dua Pilpres terakhir menyisakan trauma yang mendalam. Pembelahan sosial, polarisasi yang tidak kunjung sembuh meskipun pemilu sudah usai.

"Tiga partai yang berkumpul sepakat bahwa dalam Pemilu 2024 nanti kita tidak boleh terjebak pada hal yang sama. Kami ingin pemilu menjadi ajang kontestasi ide, gagasan, track record, dan prestasi. Kesempatan untuk saling membuktikan diri mana yang terbaik di antara para peserta kontestasi," tuturnya.

Lebih lanjut, Ace menambahkan, ketiga partai politik tersebut menjadikan Indonesia yang lebih makmur dan lebih maju di masa depan. Jika nanti ada persaiangan, maka bentuknya harus friendly competition. Adapun Ace mengungkapkan, mengapa tiga parpol tersebut menghasilkan nama Koalisi Indonesia Bersatu.

Ace menjelaskan, kata 'Bersatu' dalam nama koalisi tersebut sepintas terlihat berasal dari gabungan simbol Golkar, PAN, dan PPP. BERingin lambangnya Golkar, SuryA (Matahari) lambangnya PAN, dan BaiTUllah (Kakbah) lambangnya PPP. 

“Jadilah kalau digabung menjadi Indonesia Bersatu. Filosofinya, sebuah harapan, menjadi sebuah koalisi yang berdiri kokoh, tumbuh kuat dan besar berkat sinar matahari, dan mendapatkan ridlo Allah SWT," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa melakukan pertemuan di Rumah Heritage Jakarta, Kamis (12/5/2022) malam. Ketiga Partai Politik itu menyatakan sikap berkoalisi untuk mengawal agenda politik ke depan termasuk untuk menghadapi Pemilu 2024. 

Sementara itu, seperti dilansir CNNIndonesia, Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai 'Koalisi Indonesia Bersatu' akan goyah pada pertengahan 2023 atau sebelum masuk tahap pendaftaran Pemilu 2024. 

Namun, koalisi perlu ditopang calon presiden yang kuat. Saat ini masih belum terlihat ada calon presiden yang kuat dan dipastikan bakal menang karena elektabilitasnya belum ada yang mencapai 60 persen. Sebab, kata Ujang, koalisi tersebut tidak memiliki tokoh bakal calon presiden (capres) potensial yang memiliki elektabilitas tinggi yang bisa diusung maju di 2024.

“Tantangan itu [tak ada tokoh capres potensial], kekurangan dari koalisi itu kalau koalisi itu terjadi. Lihat saja nanti perkembangannya, saya melihat akan goyah koalisi ini," kata Ujang, Jumat (13/5).

Ujang berpendapat, koalisi ini sebetulnya ingin membentuk poros kekuatan baru untuk menghadapi Pemilu 2024. Namun, langkah tersebut bertolak belakang dengan kultur pembentukan koalisi partai politik yang biasa terjadi di Indonesia.

Selain itu, menurut Ujang, kalau Airlangga yang diusung oleh Koalisi Indonesia Bersatu, masih perlu didampingi calon wakil presiden yang populer atau memiliki elektabilitas cukup tinggi seperti Anies Baswedan atau Ganjar Pranowo.

"Mungkin saja Airlangga yang akan dicapres kan, sambil ketiga partai tersebut ngegas untuk naikkan elektabilitas Airlangga," kata Ujang.

Dia menilai langkah mendeklarasikan koalisi secara dini seperti yang dilakukan Golkar, PAN, dan PPP itu rentan digembosi. "Bangunan koalisi di Indonesia itu biasanya bermain di ujung, jelang pendaftaran. Pada hari ini, mereka bermain di awal, ini rentan digembosi, dipecah, dibusuki. Ini yang harus dipikirkan mereka," tuturnya.