Luthfi Andi Mutty: Jika Pejabat Seperti Andi Sudirman, Negara Bisa Berhemat

Wie, otonominews.co.id
Kamis, 12 Mei 2022 | 06:56 WIB


Luthfi Andi Mutty: Jika Pejabat Seperti Andi Sudirman, Negara Bisa Berhemat
Mantan Bupati Luwu Timur  Luthfi Andi Mutty

LUTIM, (otonominews) -- Mantan Bupati Luwu Timur  Luthfi Andi Mutty mengaku tanpa sengaja  berjumpa dengan Andi Sudirman Sulaiman, Gubernur Sulsel. 

"Saya kebetulan satu pesawat menuju Bua. Beliau akan menghadiri HUT Lutra. Selanjutnya ke Lutim. Menghadiri acara yg sama. Saya sendiri akan menghadiri pernikahan putri dari H. Idris Ali. Keluarga dan teman sekolah saya di SMPN 1 Palopo," ujar Luthfi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/5/2022).

Kebetulan, lanjutnya, dirinya banyak mengenal dan bergaul akrab dengan beberapa orang gubernur. "Tetapi pada sosok Andi Sudirman, saya menemukan sesuatu yg lain. Sebagai seorang gubernur, saya tidak melihat gaya seorang pejabat dalam penampilanya. Sangat bersahaja. Dalam perjalanannya ini,  beliau tdk didampingi pejabat provinsi," ungkapnya.

Di dalam pesawat, terangnya, beliau mencari seat sendiri. Sesuai boarding pass yg dipegangnya. 

Turun dari pesawat, beliau hanya dijemput petugas bandara yg membawa beberapa buah payung. Si petugas tentu tdk secara khusus menjemput pak gubernur. 

"Tetapi laiknya seorang petugas bandara, dia bertugas menunggu dan mengarahkan semua penumpang menuju ruang kedatangan," tuturnya.

Pendeknya, kata Luthfi, tidak ada penjemputan khusus di bandara. Baik pejabat provinsi maupun pejabat pemda setempat. Padahal, seperti yang sering dia saksikan untuk gubernur-gubernur lain, jika melakukan kunjungan ke daerah, pastilah dikawal sebanyak mungkin pejabat provinsi. 

"Orang bilang, seperti rombongan sirkus. Di daerah tujuan demikian halnya. Juga dijemput meriah oleh rombongan sirkus di bandara," sebutnya.

Lanjut Luthfi, karena cuaca cukup terik saat mendarat, maka pak gubernur meminta sebuah payung yg dipegang petugas, lalu menggunakannya untuk menghindari teriknya matahari, sambil menggandeng seorang anaknya yg masih kecil. 

Anaknya yang lain yang sudah agak besar ikut bersamanya berjalan di bawah payung menuju ruang kedatangan. Payung itu dipegangnya sendiri. Gubernur tidak dipayungi oleh ajudan yang berjalan di belakangnya. 

"Keluar dari bandara, pak gubernur langsung menuju kendaraan yg sudah menunggunya. Pintu mobil dia buka sendiri. Bukan oleh ajudan," terangnya.

Padahal, sambung Luthfi, salah satu tugas ajudan adalah buka-tutup pintu mobil. Beliau duduk di depan. Di tempat duduk ajudan. Isteri dan anak-anaknya duduk di kursi belakang. Adapun si ajudan naik mobil lain. Mengiringi dari belakang. 

"Jika semua pejabat seperti ini, melakukan perjalanan secara efisien, betapa banyak biaya perjalanan yg dapat dihemat. Yang tentunya dapat dialihkan utk membiayai belanja publik," pungkasnya.