Jadi Sorotan, Rencana Kunker DPRA ke AS Diminta Dibatalkan

hen, otonominews.co.id
Rabu, 11 Mei 2022 | 10:46 WIB


Jadi Sorotan, Rencana Kunker DPRA ke AS Diminta Dibatalkan
Ilustrasi.(ist)

BANDA ACEH (Otonominews) - Rencana kunjungan kerja (kunker) pimpinan dan para anggota DPRA ke Rhode Island Amerika Serikat (AS) mendapat kritik keras dari Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA). Mereka meminta agar agenda itu dibatalkan.

Koordinator MaTA, Alfian, menyebut rencana kunker ke The University Of Rhode Island itu sifatnya tak mendesak dan tak punya manfaat besar bagi kemajuan pendidikan Aceh.

"Lebih baik uang Rp400 juta itu digunakan untuk membangun rumah duafa, peningkatan fasilitas pendidikan dan infrastruktur di daerah yang belum tersentuh," katanya kepada merdeka.com, Selasa (10/5) malam.

Menurut Alfian, dalih bahwa kunker tersebut dalam rangka memaksimalkan peran legislatif terkait dengan pembangunan strategis Aceh di bidang pendidikan, tidaklah masuk akal. Begitu juga jika dalihnya sebagai bentuk pengawasan. Sebab selama ini, peran pimpinan dan anggota DPRA juga tidak maksimal dalam membangun dunia pendidikan di Aceh. Bahkan, fungsi DPRA sebagai pengawas program-program besar tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.

"Jadi kebijakan kunjungan ke luar negeri ini dibatalkan saja. Sebab kami menilai (kunker) ini hanya jalan-jalan saja yang dibalut dengan narasi pembangunan strategis atau pun pengawasan pendidikan di Aceh," tutupnya.

Diketahui, Pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) direncanakan akan melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Rhode Island, Amerika Serikat (AS) pada tanggal 16 sampai 22 Mei 2022.

Perjalanan itu menghabiskan anggaran lebih dari Rp400 juta. Surat estimasi biaya kunker itu beredar di publik. Dokumen itu ditandatangani Hendra Budian selaku Wakil Ketua DPRA.

Berdasarkan surat itu, yang akan berangkat ke Amerika Serikat adalah tiga pimpinan DPRA, yakni Plt Ketua DPRA Safarudin, Wakil Ketua I Dalimi, Wakil Ketua II Hendra Budian, dan satu anggota DPRA bernama Alaidin Abu Abbas.

Namun belakangan Plt Ketua DPRA Safaruddin menegaskan dirinya tidak akan ikut dan juga tidak terlibat dalam mengurus apa pun terkait rencana kunjungan kerja ke Amerika Serikat tersebut.

"Saya tidak tertarik keluar negeri yang jauh sekali itu, ditambah lagi kita di DPRA belum ada pimpinan yang definitif. Jadi kalau semua pimpinan tidak ada di tempat, kurang elok juga dilihat masyarakat," katanya dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (10/5).

Menurut Safaruddin, kunker pimpinan ini dalam rangka memaksimalkan peran legislatif terkait dengan pembangunan strategis Aceh di bidang pendidikan, khususnya perguruan tinggi sekaligus memenuhi undangan The University of Rhode Island.

Kemudian, urgensi kunker memiliki sandaran untuk penguatan kelembagaan sesuai tugas fungsi DPRA. Selain itu, kunker ke luar negeri juga melihat siapa yang mengundang dan kebutuhannya apakah strategis atau tidak terkait kebutuhan Aceh.

Safaruddin menuturkan, agenda ke luar negeri tersebut memang sudah difasilitasi dalam anggaran pendapatan belanja Aceh (APBA) per anggota DPRA setahun sekali.

"Tapi selama 2 tahun ini kan, tidak kita manfaatkan karena refocusing dan keadaan Covid-19. Mungkin beberapa pimpinan dan anggota memanfaatkannya sekarang," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua II DPRA Hendra Budian yang menandatangani estimasi biasa kunker ke luar negeri tersebut, tak memberi jawaban apa pun saat dikonfirmasi merdeka.com.

Sebaliknya, Hendra memposting status di media sosial facebooknya terkait polemik kunker ke Amerika Serikat yang memakan biaya ratusan juta dan menjadi perhatian publik di Aceh.

"Harus siapin banyak oleh-oleh nih. Gara-gara udah rame yang tahu," tulisnya disertai emotikon tertawa.