Saksi Kasus Rahmat Effendi, 7 ASN Pemkot Bekasi Termasuk Sekda Diperiksa KPK

Hen, otonominews.co.id
Selasa, 18 Januari 2022 | 10:53 WIB


Saksi Kasus Rahmat Effendi, 7 ASN Pemkot Bekasi Termasuk Sekda Diperiksa KPK
Ilustrasi (Ist)

 BEKASI (Otonominews) - Pengembangan dari kasus dugaan suap yang menyeret mantan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pejabat Pemerintah Kota Bekasi dan pihak swasta.

Tak ketinggalan, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bekasi, Reny Hendrawati masuk dalam daftar periksa KPK, Senin (17/1/2022).

Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri mengungkapkan, Reny bakal diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi, terkait kasus dugaan korupsi pengadaan barang, jasa, dan lelang jabatan di Pemkot Bekasi, yang menjerat Wali Kota Bekasi nonaktif Rahmat Effendi.

"Reny Hendrawati, Sekta Kota Bekasi saksi tindak pidana korupsi terkait pengadaan barang dan jasa serta lelang jabatan di Pemerintah Kota Bekasi," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri dalam keterangan tertulisnya, Senin (17/1/2022).

Selain Reny, KPK juga memanggil sembilan saksi lainnya untuk tersangka Rahmat Effendi atau  Pepen, yaitu Intan selaku karyawan swasta, Kabid Pertanahan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan) Kota Bekasi Heryanto, Camat Rawalumbu Makhfud Saifudin, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nurcholis, Lisda selaku Kasi BP3KB.

Selanjutnya, Sherly dari pihak swasta/bagian keuangan PT Hanaveri Sentosa dan PT Kota Bintang Rayatri, Giyarto selaku pejabat pembuat komitmen (PPK), Andi Kristanto selaku ajudan Wali Kota Bekasi, dan Tita Listia dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).

Diinformasikan, saksi yang dipanggil KPK satu orang tidak hadir, yakni Kasi BP3KB Lisda dan akan dilakukan penjadwalan ulang.

“Langkah itu dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam rangka mendalami penentuan proyek-proyek di Kota Bekasi diduga arahan dan intervensi tersangka Wali Kota Bekasi nonaktif Rahmat Effendi (RE) dan kawan-kawan,” kata Ali Fikri.

Ali menjelaskan, pemeriksaan tujuh saksi oleh tim penyidik untuk mendalami aliran dana yang diduga diterima Rahmat Effendi bersama pihak terkait lainnya yang berasal dari potongan dana pegawai.

Sedangkan dua orang saksi dari pihak swasta, Sherly selaku Staf Keuangan PT Hanaveri Sentosa dan PT Kota Bintang Rayatri serta Intan diperiksa terkait kontrak kerja sama dengan Pemerintah Kota Bekasi dalam rangka pengadaan lahan dan dugaan adanya pemutusan kontrak sepihak atas kontrak pengadaan lahan.

Seperti diberitakan sebelumnya, 
dalam kasus ini, KPK sudah menetapkan sembilan tersangka. Sebagai penerima, yaitu Rahmat Effendi, Sekretaris DPMPTSP M Bunyamin (MB), Lurah Jati Sari Mulyadi (MY), Camat Jatisampurna Wahyudin (WY), dan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Bekasi Jumhana Lutfi (JL).

Kemudian pihak swasta sebagai pemberi, yakni Direktur PT ME Ali Amril (AA), pihak swasta Lai Bui Min (LBM), Direktur PT KBR Suryadi (SY), dan Camat Rawalumbu Makhfud Saifudin (MS).

Dalam konstruksi perkara, KPK menjelaskan Pemkot Bekasi pada 2021 menetapkan APBD Perubahan Tahun 2021 untuk belanja modal ganti rugi tanah dengan nilai total anggaran sebesar Rp286,5 miliar.

Ganti rugi itu adalah pembebasan lahan sekolah di wilayah Kecamatan Rawalumbu, Bekasi, Jawa Barat senilai Rp21,8 miliar, pembebasan lahan Polder 202 senilai Rp25,8 miliar, pembebasan lahan Polder Air Kranji senilai Rp21,8 miliar, dan melanjutkan proyek pembangunan gedung teknis bersama senilai Rp15 miliar.

Atas proyek-proyek tersebut, tersangka Rahmat Effendi diduga menetapkan lokasi pada tanah milik swasta dan melakukan intervensi dengan memilih langsung para pihak swasta yang lahannya akan digunakan untuk proyek pengadaan dimaksud serta meminta untuk tidak memutus kontrak pekerjaan.

Kemudian sebagai bentuk komitmen, Rahmat Effendi of juga diduga meminta sejumlah uang kepada pihak yang lahannya diganti rugi oleh Pemkot Bekasi dengan sebutan untuk "sumbangan masjid".

Uang diserahkan melalui perantara orang-orang kepercayaan Rahmat Effendi, yaitu Jumhana Lutfi