Covid-19 Juni 2021: Mengapa India Menurun, Tapi Indonesia Meledak?

husnie, otonominews.co.id
Senin, 28 Juni 2021 | 07:18 WIB


Covid-19 Juni 2021: Mengapa India Menurun, Tapi Indonesia Meledak?
 Denny Januar Aly

Oleh: Denny Januar Aly *)

JAKARTA, (otonominews) -- Viral! Video itu diforward berkali- kali di banyak WA grup. Pemandangan di Rumah Sakit, Bekasi, Jawa Barat, minggu keempat bulan Juni 2021. Bahkan di lahan parkir rumah sakit, aneka tenda untuk korban Covid-19  dibangun darurat. Seadanya. 

Rumah sakit itu kehabisan kamar. Lalu ditambah beberapa tenda darurat di lahan parkir. Kini bahkan tenda darurat itu juga penuh.

Tak terhindari, di atas lahan parkir lainnya, kini didaya gunakan, menampung pasien yang bertambah.

Di lahan semen itu digelar tikar. Mereka yang belum dapat tempat di tenda, bergelimpangan terbujur lemas, tak berdaya di atas tikar plastik.

Karena tikar penuh, bahkan sebagian pasien, masih tergeletak di atas bak terbuka beberapa mobil.

Tergambar aneka ekspresi wajah cemas tapi tak berdaya. Akan bertambah lagi kah korban Covid-19, sehingga lahan parkir Rumah Sakitpun tak cukup?

Bagaimana jika tiba tiba hujan? Itu yang sakit, hanya tergeletak di tikar di lahan parkir, beratap langit belaka, pasti akan terguyur air hujan. Lalu mereka harus diangkut kemana lagi?

Beritapun meledak. Jakarta Post membuat judul yang mencolok: “Hospital Collapse As Second Wave Engulfs Indonesia.” Rumah Sakit runtuh saat gelombang kedua Covid-19 menelan Indonesia. (1)

Kampanye agar menjaga protokol kesehatan meluas. Termasuk sebuah baliho yang entah serius atau hanya ingin jenaka.

Bunyi baliho: “Bayangkan 14 hari berturut-turut HP anda dipegang istri, karena anda sakit dan wajib Isolasi mandiri. Agar ini tak terjadi, pakai masker. Taat Prokes!

Bagi pembuat baliho, Ia mungkin menduga. Di kalangan sebagian lelaki yang sudah beristri, tak ada yang lebih menakutkan bagi seorang suami kecuali HPnya dipegang istri. Apalagi 14 hari berturut-turut. 

Ancaman HP dipegang istri bagi suami jenis tertentu bahkan mungkin lebih menakutkan dibandingkan seruan  biasa: “Hati-hati anda terpapar virus corona.”

-000-

Minggu 27 Juni 2021, pagi hari. Saya membaca laporan Worldometer soal perkembangan muthakir virus corona di seluruh dunia.

Grafik itu sangat jelas. Yang terpapar virus corona per hari di Amerika, berbagai negara Eropa menurun. Bahkan rata rata populasi dunia, yang terpapar virus corona juga menurun.

Saya baca laporan untuk India. Bahkan di India, di minggu ketiga Juni 2021, grafik yang terpapar virus corona juga menurun.

Tapi membaca grafik Indonesia, saya agak cemas. Justru ketika rata rata dunia menurun, bahkan India menurun, di Indonesia justru grafik terpapar virus corona menaik, sejak minggu ketiga bulan Mei 2021. (2)

Mengapa ketika rata rata dunia menurun, Indonesia justru menaik?

Berdasarkan data Worldometer, di bulan Juni 2021, jumlah penduduk yang terpapar Covid-19, Indonesia termasuk dalam empat besar dunia (Brazil, Columbia, India, Indonesia).

Pada empat negara tersebut, yang terpapar virus corona per hari sekitar 21 ribu orang ke atas. 

Per-tanggal 27 Juni 2021, sudah 2 juta lebih penduduk Indonesia terpapar Virus Corona. Dibandingkan 270 juta populasi, 0,8 persen penduduk Indonesia kini atau pernah terkena virus corona.

Sementara berbagai negara di Barat yang dulu menjadi pusat Covid-19, yang dulu begitu mencemaskan: Amerika Serikat, Itali, UK, menunjukkan gejala menurun.

-000-

Apa sesungguhnya yang menyebabkan perbedaan antar negara? Mengapa di satu negara menaik, dan di negara lain menurun?

Mengapa di satu negara terpapar parah Covid-19? Tapi di negara lain, paparan Covid-19 moderat saja?

Empat variabel ini sebagai penyebab. Pembeda. Gradasi  tingkat keparahan atas serangan Covid-19 terhadap penduduknya, tergantung dari skala empat variabel ini.

Pertama: intensitas hubungan interpersonal. Semakin sering terjadi kontak fisik, perjumpaan fisik para individu, apalagi jika berkumpul dalam kerumunan, semakin besar kecepatan menular.

Tentu diasumsikan, virus Covid-19 sudah masuk ke wilayah tersebut.

Hari raya agama acapkali menjadi wadah penyebaran Covid yang fatal. Di India, bulan April 2021, diadakan ritus agama Hindu: Kumb’s festival (Kumb Mela)

Ratusan ribu, bahkan jutaan, manusia berkumpul dan menceburkan diri di Sungai Gangga.

Sejak saat itu, tingkat penyebaran Covid-19 memuncak. Menaik hingga puncaknya satu bulan kemudian. Lalu menurun.

Di Indonesia, hari Raya Idul Fitri, bulan Mei 2021 juga problema. Walau dilarang dengan himbauan resmi, tapi mudik diam diam terus terjadi.

Belanja berdesak-desakan di pasar murah, menyambut Hari Idul Fitri, juga terjadi.

Sejak saat itu hingga hari ini, sebulan setelah Idul Fitri, kasus harian terpapar Covid-19 di Indonesia memuncak.

Kedua: jenis virus yang beredar. Covid-19 banyak variannya. Masing masing varian memiliki tingkat kecepatan menular yang berbeda. Setiap varian juga memiliki daya rusak tubuh yang berbeda.

Virus awal dari Wuhan memiliki kecepatan menular 1 banding 3. Satu terpapar potensial menularkan kepada 3 orang lain.

Virus Covid-19 versi berikutnya, Alpha, kecepatan menularnya bertambah. Satu terpapar menularkan kepada 5-6 orang lain.

Virus yang paling ganas, datang dari India: Delta. Satu terpapar berpotensi menularkan kepada 7-8 orang lain.

Ketiga jenis virus itu bersama dengan varian lain, di era globalisasi, ikut pula mengglobal, menyebar ke banyak negara.

Virus jenis mana yang dominan di sebuah negara ikut menentukan gradasi perbedaan tingkat keparahan  Covid-19.

Ketiga: ketaatan protokol kesehatan. Sebelum vaksin ditemukan, dan sebelum vaksinasi sudah meluas mencapai Herd Immunity,  ketaatan pada protokol kesehatan sangat menentukan seseorang akan terpapar atau tidak.

Tak perlu banyak-banyak. Cukup 10 persen saja dari populasi yang ada tak disiplin dengan protokol kesehatan; 10 persen ini akan menjadi medium penularan Covid-19 yang efektif.

Di Indonesia, dari aneka survei yang dibuat LSI Denny JA, prosentasi populasi Indonesia yang tak disiplin, bahkan tak peduli protokol kesehatan, di atas 10 persen.

Keempat: kecepatan vaksinasi. Kini vaksin sudah ditemukan, sudah menyebar, sudah meluas. Namun daya terima publik atas vaksinasi juga beragam.

Berbagai alasan menjadi pertimbangan. Itu mulai dari rasa khawatir dengan efek samping. Media sosial acapkali menggembar gemborkan efek samping vaksin secara tak berimbang.

Tak diberitakan bahwa sangat mungkin efek itu bukan karena vaksin tapi kebetulan efek itu datang setelah divaksin.

Tak diberitakan misalnya kasus yang gagal dibanding yang berhasil, jauh, jauh, jauh lebih banyak.

Ada pula karena merasa berlangsung  konspirasi politik dan ekonomi dibalik bisnis vaksin. Ia tak bersedia ikut membuat konspirasi bisnis politik itu sukses.

Ada pula karena keyakinan agama dan sikap hidup. Itu yang membuatnya menghindari vaksin.

Kecepatan pemerintah nasional menyediakan vaksin kepada warganya berbeda- beda pula. Ada negara yang tingkat vaksinasinya sudah di atas 50 persen populasi, bahkan 60 persen populasi.

Ada banyak negara yang baru mencapai vaksinasi populasi di bawah 10 persen. Bahkan di bawah 5 persen.

Empat alasan di atas yang membeda-bedakan tingkat keparahan sebuah negara untuk kasus Covid-19.

Lalu mengapa India kini menurun, dan Indonesia justru menaik?

Dua dari empat variabel di atas menjadi sebab. Di India, hari raya umat Hindu (agama mayoritas) sudah terjadi sebulan  lebih dahulu, dibanding hari raya Umat Islam (agama mayoritas) di Indonesia.

India lebih dahulu mengalami puncak penularan. Puncak penularan mereda, ketika India menerapkan lock down, memutus rantai penularan.

India juga menerapkan 3 T secara massif (Testing, Tracing, Treatment). Semakin menggila penularan, semakin menggila pula kerja 3 T itu.

Dan India juga mengkampanyekan  vaksinasi. Kini vaksinasi di India meluas dan  mencapai hampir 20 persen populasi.

Di Indonesia, efek perjumpaan hari raya datang sebulan kemudian, sebulan setelah Hari Raya di India. Puncak covid-19 di Indonesia juga datang sebulan lebih telat.

Ketika di India menurun di tengah Juni 2021, Indonesia justru tengah memuncak. 

Pemerintah Indonesia juga menerapkan “lock down skala mikro.”

Vaksinasi juga dikampanyekan. Tapi vaksinasi barulah menyentuh kurang dari 10 persen. Itu hanya separuh dari kecepatan vaksinasi di India.

Vaksinasi menjadi kunci maha hebat untuk keluar dari pandemik. Semakin sebuah negara mendekati the magic number 70 persen populasi, Ia semakin aman.

Jika sudah 70 persen warga divaksin, walau virus Covid-19 terus saja bergentayangan, tapi Covid-19 tidak lagi menjadi masalah.

-000-

“Lapor Pak, di LSI  Grup sudah 79 persen pimpinan dan karyawan yang divaksin. Sisanya sedang menunggu jadwal, sedang di luar kota, dan sedang sakit.”

“Pak melaporkan. Di lingkungan DRP Holding, sudah 90 persen pimpinan dan karyawan divaksin. Sisanya menunggu jadwal. Ada satu karyawan saja yang disarankan dokter jangan divaksin karena ada penyakit yang Ia derita.”

“Lapor pak, semua karyawan yang bekerja di rumah tangga: pengawal, supir, asisten rumah tangga, dll, 100 persen sudah divaksin.

Di era ketika serangan Covid-19 memuncak, itulah laporan yang melegakan saya.

Setidaknya di lingkungan yang bisa saya kontrol, saya keras sekali, mewajibkan semua divaksin, dengan sanksi keras. Tapi tentu ada perkecualian bagi mereka yang alasannya kuat.

Kadang saya mendengar juga, ada yang mengeluh. “pak Denny biasanya liberal, demokrat. Kok soal vaksin, Ia otoriter.”

Yap, untuk vaksin, saya memilih mewajibkannya. Inilah tanggung jawab saya untuk ikut bagian sekecil apapun, agar secepatnya Indonesia mencapai Herd Immunity. Mencapai 70 persen populasi divaksin.

Di lingkungan saya sendiri, keluarga, dunia usaha, komunitas kawan dekat, 70 persen “populasi sudah divaksin” sudah tercapai. Itu sebelum Juni 2021 berakhir.

“Berlomba- lombalah kamu dalam kebajikan.” Ini seruan ajaran agama yang populer dan sangat kuat. Di era Covid-19, seruan itu dapat juga dimodifikasi “Berlomba-lombalah kamu mewajibkan vaksinasi.”

*) Direktur Eksekutif Lingkar Survei Indonesia (LSI)


 


ARTIKEL TERKAIT