LP3ES: Memaksakan Pilkada Bisa Berubah Menjadi Ritual Bunuh Diri Massal

Husnie, otonominews.co.id
Kamis, 01 Oktober 2020 | 08:32 WIB


LP3ES: Memaksakan Pilkada Bisa Berubah Menjadi Ritual Bunuh Diri Massal
Direktur LP3ES, Wijayanto

JAKARTA (otonominews) - Pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 jika tetap dilanjutkan saat pandemi Covid-19 dikhawatirkan bisa berakibat fatal kepada keselamatan jiwa masyarakat, peserta pemilu, dan juga penyelenggara pemilu.

Penilaian itu disampaikan Direktur Center for Media & Democracy Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Wijayanto dalam diskusi virtual LP3ES, Rabu (30/092020). 

"Risiko nyawa dalam jumlah besar, resiko buruknya sosialisasi karena kampanye tetap terjadi, kemudian orang tidak akan seantusias sebelum-sebelumnya, dan dia akan tidak tertarik dengan pemilu, malah ada ketakutan," ujar Wijayanto.

Sebetulnya, kata Wijayanto, Pilkada hanya instrumen memilih pemimpin yang nanti diharapkan menghadirkan kesejahteraan rakyat, melindungi segenap tumpah darah bangsa. 

"Tapi menjadi ironi jika proses itu mengancam jiwa para pemilih. Pilkada ini bertentangan dengan kesejahteraan rakyat," ungkapnya.

Rakyat, katanya, telah mempercayakan kepada KPU untuk melindungi pemilih. Tapi KPU saja kena, dua komisioner kena Covid-19. Dan para calon yang ingin meyakinkan kita itu ada 62 yang kena Covid-19. "Lalu bagaimana kita bisa menjamin, bisa melindungi rakyat dari corona," kata Wijayanto.

Sehingga, satu hal yang menurut Wijayanto menjadi ironi dalam penyelenggaraan pilkada tahun ini adalah ketidaksesuaian antara hakikat demokrasi dengan hak mendapat kehidupan dan kesehatan untuk rakyat.

Oleh karena itu, kata Wijayanto, LP3ES secara institusi  sudah mengusulkan kepada pemerintah, DPR dan juga penyelenggara pemilu untuk menunda pilkada. Namun, jika tetap dilanjutkan, maka pesta demokrasi 5 tahunan di daerah tahun ini bakal menjadi sejarah kelam. "Memaksakan pilkada bisa berubah menjadi ritual bunuh diri massal," tandasnya.


ARTIKEL TERKAIT