Bupati Boltim: Permintaan DPD Tunda Pilkada Tidak Rasional

Hen, otonominews.co.id
Senin, 14 September 2020 | 11:48 WIB


Bupati Boltim: Permintaan DPD Tunda Pilkada Tidak Rasional
Bupati Boltim Sehan Lanjar
BOLTIM (Otonominews) - Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Sulawesi Utara, Sehan Lanjar menyoroti soal usulan DPD RI yang meminta agar Pilkada Serentak tahun ini ditunda.

Sehan menilai, penolakan DPD agar pilkada dilaksanakan Desember tahun ini, hanya karena ingin agar terlihat ada kegiatan saja. Ia mengatakan, rencananya akan mencoba berdialog dengan sahabatnya, Fahrul Rozi.

Terkait Covid-19 ini, sebagai pemimpin, menurut Sehan, seharusnya pemimpin tidak membuat rakyat takut.

"Pemimpin itu jangan menakut-nakuti rakyat. Mengingat kan saja saja. Jangan gara-gara Covid kemudian harus pilkada yang dihentikan. Saya khawatir kalau pilkada dihentikan kerugian sangat besar. Para pendukung kandidat kan ngamuk karena kecewa. Tidak sedikit kerugian rakyat disaat-saat seperti ini. Juga bung tenaga dan waktu untuk mendukung para kandidatnya" tegasnya.

"Karena itu rakyat saya dorong untuk tidak takut dengan Covid. Itu yang membuat Boltim aman dari Covid. Jangan takut tapi tetap ikhtiar. Kalau kita takut penyakit apapun bisa membunuh orang. Kita jangan takut dengan Covid tetapi kita tetap waspada dan disiplin. Karena ketakutan itu bl merupakan salah satu benih diserang penyakit dan itu penyebab kematian," tambahnya.

Ia juga menilai permintaan DPD sangat tidak rasional, dan mengada-ada.


"Sangat tidak rasional dan terlalu prematur mengada-ada. Saya hanya meminta saja. Komisi I harus berani buka-bukaan didalam kurun waktu 5-6 bulan ini angka kematian di Indonesia coba diklasifikasi. Penyakit dengan kematian apa yang paling banyak. Apakah Covid yang paling banyak apakah jantung, darah tinggi, kanker, DBD atau penyebab lainnya," ucapnya.

Pemimpin, kata dia, jangan menakut-nakuti tapi mengingatkan rakyat perlu waspada.

"Jadi kita tidak perlu takut. Sampai detik sekarang ini rakyat Boltim tetap kuat jiwanya, tidak perlu kita takut tetapi kita tetap ikhtiar. Berhadapan dengan orang kita juga tetap waspada, pegang apa-apa juga tetap waspa. Jadi kedisplinan itu yang penting bukan membentuk ketakutan tapi membentuk kedisiplinan. Memang nya kalau pilkada ditunda bisa mencegah rakyat untuk berinteraksi? Apa bedanya irang kumpul di pasar atau mau mal dengan orang yang kumpul di tempat kampanye? Jangan karena kepanikan akhirnya cara kita berpikir buntu," tukasnya.

Menurut Sehan, kalau ingin tahu perkembangan penyebaran Covid-19, rakyat tidak usah dites.

"Orang yang keluar dari rumah sakit kecewa karena hanya tidur-tiduran  saja dikasih vitamin makan biasa 2-15 hari disuruh pulang. Siapa yang berani terbuka berapa ongkos yang di rumah sakit yang diklaim kena Covid. Itu dirahasiakan. Untuk mengubur saja 6-8 juta," bebernya.

Kepanikan yang berlebihan ini, kata dia, membuat pemerintah semakin bingung, akhirnya mengeluarkan biaya triliunan untuk Covid. 

"Kalau tubuh saya bukan karena bawaan, saya tidak khawatir. Kalau pilkada ditunda siapa yang mencegah aktifitas di pasar-pasar," kata Sehan.

Sehan mengapresiasi, kali ini pemerintah berpikir rasional. Dia sarankan tidak usah repot-repot. Kalau ada yang sakit obati saja. Orang sehat dibilang reaktif langsung ditangkap dibawa ke rumah sakit. 

"Ongkos nya sangat besar ditanggung negara. Karena apa? Ongkos nya besar yang menggunakan ventilator 12.5 juta perhari ditanggung negara. Vietnam tidak mengetes rakyatnya ekonominya tetap jalan," ungkapnya.

Ia menambahkan, sekarang banyak rumah sakit mau menjadi rumah sakit rujukan. 

"Sakit apa saja dibilang Covid karena ongkosnya besar. Fakta kejadian paman saya terkena penyakit paru-paru dibawa kerumah sakit langsung di vonis Covid langsung di isolasi. Marah saya, langsung bilang bawa pulang jangan ditandatangani," katanya.

Sehan mengatakan, tidak ada orang Vietnam mati karena Covid. Di Jakarta orang gila yang berkeliaran tidak pakai masker lebih 50ribu orang apakah sudah mati semua dalam 5 bulan ini karena tidak memakai masker. 

"Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur orang gila lebih dari 300 ribu dalam 5 bulan ini apakah mati semua? Kita gunakan akal apakah Covid ini benar-benar yang membahayakan manusia. Itu salah satu sebagai alat ukur," kata dia.

"Seharusnya janganlah bikin susah negara ini. Bayangkan anggaran kitab tersedot lebih 1000 triliun hanya gara-gara kepanikan ini. Ekonomi kita kan pertumbuhannya minus. Ini berbahaya. Baru 7000an yang mati sudah begitu panik nya, tapi tidak pernah dibuka yang mati Katena darah tinggi, jantung, sudah berupa puluhan ribu. Setiap hari ada 3000an yang mati paling tinggi mati karena Covid 5-50 orang. Tidak mencapai 5 persen," pungkasnya.