Diajak Ngamar Calon Wawalkot Depok, Afifah Alia Mengaku Geram, Tapi Memilih Diam

Mawi, otonominews.co.id
Sabtu, 12 September 2020 | 09:06 WIB


Diajak Ngamar Calon Wawalkot Depok, Afifah Alia Mengaku Geram, Tapi Memilih Diam
Calon Wakil Walikota Depok, Afifah Alia
DEPOK (otonominews) --  Calon Wakil Walikota Depok yang diusung PDIP, Afifah Alia membuat pengakuan mengejutkan. Ia menuding pesaingnya, Imam Budi Hartono, Calon Wakil Walikota Depok yang diusung oleh PKS dan koalisi telah melakukan pelecehan seksual secara verbal terhadap dirinya.

Pengalaman tidak menyenangkan itu dialaminya ketika kedua kandidat menjalani tes kesehatan di RS Hasan Sadikin, Bandung, Selasa (8/9/2020).

"Kamar kandidat Pilkada Depok bersebelahan, saat petugas RS menginformasikan kamar saya, tiba-tiba Pak Imam Budi dalam lontarannya mengatakan, ‘Bu Afifah sekamar sama saya saja’. Buat saya itu tidak pantas. Belum kenal, baru pertama kali bertemu, kok seperti itu," kata Wakil Ketua Bidang Perempuan dan Anak PDIP Kota Depok itu.

Afifah mengaku sedang mempersiapkan diri untuk pemeriksaan kesehatan yang berlangsung selama dua hari. Tidak ada tim yang mendampingi saya karena peraturan mengharuskan masing-masing paslon tidak didampingi.

“Saya sadar posisi saya yang belum pernah menjabat apa-apa sebelumnya, saya hanya warga biasa. Saya juga sudah dengar beberapa cibiran orang, perempuan kok berani-beraninya ikutan pilkada kota. Saya yang sesama kandidat saja dengan entengnya dilecehkan oleh kandidat lain, karena saya perempuan,” jelasnya.

Calon Wakil Wali Kota Depok, Imam Budi Hartono, angkat bicara soal dugaan pelecehan terhadap pesaingnya, calon Wawalkot Depok dari PDIP Afifah Alia. Imam Budi Hartono, yang diusung PKS, menegaskan tak pernah bermaksud melecehkan Afifah Alia. Dia mengaku merasa tak bersalah ketika ia dianggap melecehkan lawan politiknya sesama calon wakil wali kota, Afifah Alia secara verbal. 

Namun, Afifah mengaku, dirinya merasa geram, tetapi memilih diam. Di lokasi itu, kata dia, tidak ada tim yang mendampingi karena peraturan mengharuskan masing-masing pasangan calon tidak didampingi.

"Di situ ada Pak Idris yang mendengar, lalu tertawa terbahak-bahak sambil jarinya menunjuk Pak Imam. Saat itu saya merasa geram, saya sangat marah, namun saya memilih diam. 


ARTIKEL TERKAIT