Jokowi Ancam Bakal Ada Reshuffle

Presiden Berang Serapan Anggaran Kesehatan 4,68 Persen, Ini Penjelasan Kemenkeu

Hen, otonominews.co.id
Minggu, 05 Juli 2020 | 08:52 WIB


Presiden Berang Serapan Anggaran Kesehatan 4,68 Persen, Ini Penjelasan Kemenkeu
Presiden Joko Widodo.(Ist)

JAKARTA Otonominews - Rendahnya penyerapan anggaran untuk penanganan Covid 19 menyebabkan Presiden Joko Widodo berang. Tak main-main, bahkan Presiden sempat mengancam akan melakukan reshuffle. 

Penyerapan anggaran kesehatan khususnya untuk penanganan Covid 19 rendah diakui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang mencatat bahwa realisasi anggaran penanganan virus corona pada masing-masing sektor masih di bawah 50 persen dari, yang ditetapkan pemerintah sejak Maret lalu.

Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kemenkeu Kunta Wibawa menjelaskan, 
data Kemenkeu mencatat, insentif kesehatan sendiri baru terealisasi sebesar 4,68 persen, perlindungan sosial 34,06 persen, sektoral dan pemerintah daerah (pemda) 4,01 persen, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) 22,74 persen, insentif usaha 15 persen, dan pembiayaan korporasi nol persen.

Dalam video conference, Sabtu (4/7), Kunto memaparkan, penyebab rendahnya penyerapan pada anggaran kesehatan adalah adanya ketimpangan anggaran dengan realisasi yang ada di lapangan. Pasalnya, penanganan untuk pasien corona telah berjalan, namun seluruh anggaran belum terkumpul.
 
"Kami sudah lihat apa kendala-kendalanya dan sebenarnya lebih kepada gap antara realisasi dan fisiknya. Jadi di masyarakat sebenarnya sudah jalan misalnya terkait penanganan pasien covid-19 tapi uangnya yang belum 100 persen," ujarnya.

Menurut Kunto, ada beberapa cara yang akan ditempuh untuk mempercepat pencairan anggaran kesehatan. Salah satunya dengan mencairkan setengah insentif sebagai uang muka.

 

"Terobosan kita sekarang pakai uang muka, dokumen belum lengkap enggak apa-apa, sambil jalan dokumen bisa dipenuhi, karena memang ada beberapa program yang existing," 

 

Hingga 24 Juni 2020, lanjutnya, realisasi anggaran kesehatan masih berada di kisaran 4,68 persen atau sekitar Rp4,09 triliun dari total pagu Rp87,5 triliun. Menurutnya, jumlah tersebut telah meningkat dibanding pekan sebelumnya di 1,53 persen.

"Jika dibandingkan dengan total memang masih rendah, Tapi perkembangannya cukup bagus," imbuhnya.

Kunto menguraikan, dana sektor kesehatan yang mencapai Rp87,55 triliun itu digunakan untuk belanja penanganan virus corona sebesar Rp65,8 triliun, insentif tenaga medis Rp5,9 triliun, santunan kematian Rp300 miliar, bantuan iuran jaminan kesehatan nasional (JKN) Rp3 triliun, gugus tugas penanganan covid-19 Rp3,5 triliun, kemudian insentif perpajakan di bidang kesehatan Rp9,05 triliun.

"Insentif tenaga medis yang direalisasikan baru sebesar Rp100 miliar, bantuan iuran JKN masih nol, gugus tugas covid-19 Rp2,0 triliun, dan insentif perpajakan di bidang kesehatan sebesar Rp1,3 triliun," terangnya.

"Sedangkan realisasi insentif untuk perlindungan sosial baru sebesar 34,06 persen dari total dana yang disiapkan sebesar Rp203,9 triliun. Artinya, dana yang tersalurkan baru sebesar Rp69,45 triliun. Ini perlu perbaikan dalam penyaluran bulan depan," imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu yang mengakui berdasarkan data terbaru serapan anggaran kesehatan untuk penanganan COVID-19 baru mencapai 4,68%. 

Dalam acara CNN Indonesia 'Jurus Jokowi Lawan Hantu Resesi' Jumat (3/) malam, Febrio menjelaskan, penyerapan anggaran yang rendah dikarenakan proses perubahan pagu maupun kendala pelaksanaan di lapangan seperti keterlambatan klaim biaya perawatan dan insentif tenaga kesehatan.

"Ini makanya Pak Jokowi marah-marah, bahwa terlihat pencairan untuk anggaran kesehatan, insentif tenaga medis, santunan dan sebagainya itu lambat sekali," ujarnya 

Menurut Febrio serapan anggaran kesehatan  baru terlihat meningkat setelah ditegur Jokowi. Pada Sidang Kabinet Paripurna pada 18 Juni 2020 Jokowi memang terlihat sangat marah hingga mengancam reshuffle.

"Barulah satu minggu ini kelihatan loncatannya, kerjasama mulai terlihat baik. Bagaimana prosedurnya disederhanakan