KSPI: Kedatangan TKA China Cederai Rasa Keadilan Pekerja Lokal

Husnie, otonominews.co.id
Senin, 29 Juni 2020 | 19:46 WIB


KSPI: Kedatangan TKA China Cederai Rasa Keadilan Pekerja Lokal
Presiden KSPI Said Iqbal

JAKARTA (otonominews) -- Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyesalkan masuknya TKA China ke Indonesia di tengah pandemi virus corona (Covid-19) dan jutaan orang yang kehilangan pekerjaan. 

Hal tersebut ditegaskan Presiden KSPI Said Iqbal kepada para wartawan melalui keterangan tertulis, Senin (29/6/2020). 

Menurut Said, kedatangan TKA tersebut mencederai rasa keadilan pekerja lokal dan rakyat Indonesia, lantaran seharusnya lapangan pekerjaan yang tersedia diberikan sepenuhnya kepada warga negara Indonesia (WNI).

"Kalau alasan masuknya ratusan TKA tersebut dibutuhkan keahliannya, saya kurang sependapat, karena PT Virtue Dragon Nickel Industry sendiri sudah cukup lama ada di Konawe, Sulawesi Tenggara," kata Said. 

Itu artinya, lanjut Said, selama ini perusahaan dan pemerintah gagal memenuhi persyaratan, TKA yang bekerja di Indonesia harus tenaga ahli dan melakukan transfer of khowledge dan transfer of job. 

"Di dalam UU No 13 Tahun 2003 sudah diamanatkan, setiap 1 orang TKA wajib ada pendamping 10 orang pekerja lokal. Apabila selama ini TKA yang bekerja di sana ada pendamping tenaga kerja lokal dan terjadi transfer pengetahuan, maka pekerjaan yang ada seharusnya sudah bisa dikerjakan tenaga kerja lokal, sehingga tidak perlu lagi mendatangkan TKA," tegasnya. 

Bagi KSPI, ujar Said, hal itu merupakan pelanggaran terhadap ketentuan hukum yang mengatur mengenai penggunaan tenaga kerja asing.

"Pelanggaran yang lain, seharus TKA bisa berbahasa Indonesia. Karena tidak bisa berbahasa Indonesia, hal ini akan menyulitkan dalam berkomunikasi, dalam rangka melakukan transfer of knowledge tadi," tuturnya.

Alumni Master Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini pun mengaku, dirinya tidak yakin lulusan dari UI, ITB, dan kampus-kampus ternama di Indonesia tidak mampu memenuhi skill yang dibutuhkan di sana. 

"Oleh karena itu, KSPI meminta kepada pemerintah agar menarik kembali TKA yang sudah datang dalam gelombang pertama, serta membatalkan masuknya 500 TKA China," ungkapnya. 

Apalagi, tambah Said, mahasiswa dan masyarakat sudah melakukan protes terkait masuknya TKA tersebut.

"Di tengah pandemi dan banyak buruh yang kehilangan pekerjaan, mengapa TKA justru diizinkan bekerja di Indonesia? Bukankah akan lebih baik jika pekerjaan tersebut diberikan untuk rakyat kita sendiri," pungkas Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) tersebut.



ARTIKEL TERKAIT