Prof Siti Zuhro: Presiden Jengkel Pada Pembantunya Wajar, Jika Alasannya Rasional

Mawi, otonominews.co.id
Senin, 29 Juni 2020 | 09:57 WIB


Prof Siti Zuhro: Presiden Jengkel Pada Pembantunya Wajar, Jika Alasannya Rasional
Peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI, Prof. Dr. Siti Zuhro, M.A.

JAKARTA (otonominews) -- Prof. Dr. Siti Zuhro, M.A. menilai Presiden kesal/jengkel terhadap para pembantunya itu wajar kalau alasannya rasional. Mengapa? Dalam kondisi mengatasi Covid-19 diperlukan ketangkasan dan kreativitas serta inovasi-inovasi para menteri. 

"Bagaimana aktivitas mau jalan kalau anggaran belum terserap. Ini mungkin yang menjadi inti kekesalan pak Jokowi," ujar peneliti senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kepada otonominews, Senin (29/6/2020).

Menurut Mbak Wiwieq sapaan akrabnya, program bantuan sosial (Bansos) dan program-program pelayanan terhadap masyarakat tidak boleh ditunda atau tertunda. Lamban dalam mengeksekusi program-program untuk rakyat berarti pengabaian terhadap kebutuhan mereka. 

"Padahal sebagaimana dijelaskan secara berulang kali bahwa era Covid-19 memerlukan sikap yang agile dan adaptif. Tanpa sikap yang tangkas, agile dan adaptif tersebut Indonesia akan tertinggal dan sulit menjadi negara maju," pungkas penerima MIPI Awards 2014 kategori Ilmuwan Pemerintahan itu.

Sebelumnya, dalam arahannya pada rapat kabinet terbatas 18 Juni 2020 lalu, lewat video yang diunggah melalui kanal Youtube sekretariat Presiden, Ahad (28/6/2020), Presiden Jokowi menyampaikan rasa kecewanya terhadap kinerja para Menteri yang dinilai tidak memiliki progres kemajuan yang signifikan. Tak tanggung-tanggung Jokowi juga akan melakukan perombakan kabinet jika diperlukan.

"Bisa saja membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle, sudah kepikiran kemana-mana saya. Entah membuat perppu yang lebih penting lagi kalau memang diperlukan. Karena memang suasana ini harus ada suasana ini tidak bapak ibu tidak rasakan. Artinya tindakan tindakan yang extraordinary, extra keras akan saya lakukan," tegas Jokowi.

Jokowi mengatakan, total 34 Menteri yang dimilikinya belum memiliki manajemen krisis yang bagus. Jokowi menilai hingga saat ini, kebijakan yang dikeluarkan masih standar atau itu-itu saja. Suasana dalam tiga bulan belakangan ini dan yang ke depan, mestinya yang ada adalah suasana krisis. 

"Kita juga, mestinya semua yang hadir disini sebagai pimpinan sebagai penanggung jawab kita yang berada disini bertanggung jawab terhadap 267 juta penduduk Indonesia tolong digaris bawahi dan perasaan kita sama, ada sence of crisis yang sama," ujar Jokowi.