Polresta Mamuju Selidiki Dugaan Pelanggaran Proses Jual Beli Pulau Malamber

Husnie, otonominews.co.id
Kamis, 25 Juni 2020 | 01:29 WIB


Polresta Mamuju Selidiki Dugaan Pelanggaran Proses Jual Beli Pulau Malamber
Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas'ud

MAMUJU (otonominews) -- Beberapa hari belakang Pulau Malamber yang luasnya puluhan hektar itu terletak di Desa Balabalakang, Kecamatan Balabalakang, Kabupaten Mamuju, ini menjadi pembicaraan publik dan pejabat, termasuk kepolsian di Mamuju, Sulawesi Barat. 

Pasalnya santer terdengar adanya jual beli pulau tersebut. Belakangan beredar Pulau Malamber, Mamuju, Sulawesi Barat dijual seharga Rp2 miliar kepada Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Abdul Gafur Mas'ud.

Polresta Mamuju bergerak cepat menyelidiki dugaan pelanggaran dalam proses jual beli Pulau Malamber. Rencananya Polresta Mamuju akan memanggil Bupati Penajam Paser Utara Abdul Gafur Mas'ud juga semua pihak yang diduga terkait dengan kasus jual beli Pulau Malamber di Sulawesi Barat (Sulbar).

"Nanti saya panggil dia, pasti saya panggil, saya harus jelaskan ke dia seperti bagaimana, bukti-bukti saya lengkap," ujar Kasat Reskrim Polresta Mamuju, AKP Syamsuriansyah saat dikonfirmasi media, Rabu (24/06/2020).

Syamsuriansyah mengatakan, pihaknya sudah memeriksa beberapa saksi terkait proses jual beli pulau itu. Penyidik menemukan beberapa fakta terkait proses itu, diantaranya, transaksi jual beli dilakukan di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Ada sproradik terbit sebelum pulau itu terjual. Yang janggal adalah, katanya, bukan pulau yang dijual, tetapi sebidang lahan, bukan satu pulau. Tapi masa iya, harganya sangat fantastis, berapa sih NJOP di sana,” kata Syamsuriansyah.

Syamsuriansyah berharap para pihak nantinya dapat kooperatif memberikan keterangan terkait jual beli pulau dengan harga Rp 2 miliar tersebut. "Inikan masih dalam proses penyelidikan, jikalaupun nanti kita undang untuk proses klarifikasi kita berharap bisa kooperatif, karena ini bukan atas nama bupati tapi atas nama pribadi," tuturnya.

Sebelumnya, Agus Amri selaku pengacara Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas'ud, membantah kliennya membeli Pulau Malamber di Sulawesi Barat (Sulbar). Dia menyayangkan nama Abdul Gafur dibawa ke kontroversi jual-beli pulau yang ada di antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi tersebut. Pulau Malamber adalah satu dari 41 pulau kecil yang ada di Sulawesi Barat.

"Informasi pembelian Pulau Malamber tersebut oleh Bapak Abdul H Gafur Mas'ud adalah tidak benar. Bahwa kami menyayangkan adanya pihak-pihak tertentu yang secara tidak bertanggung jawab telah menyebutkan nama beliau secara terang-terangan baik secara pribadi maupun sebagai Bupati PPU seolah-olah benar-benar sebagai pembeli atas Pulau Malamber tersebut," ungkap Agus kepada wartawan, Senin (22/6).

Namun, Abdul Gafur  menegaskan bahwa pulau tersebut punya keluarganya yang sudah lama disana sebelum Indonesia merdeka dari kakek dan neneknya dahulu. Dan kebetulan dirinya memiliki orangtua dari Mandar Sulawesi Barat bahkan ia menyebutkan bahwa dirinya merupakan cucu dari KH. Muhammad Husain atau yang digelar Puang Kali Malunda. 

“Sudah lama (jadi milik), sebelum Indonesia merdeka. Dari kakek-nenek kami dulu. Kebetulan orang tua saya dari Mandar, Sulawesi Barat. Saya cucu dari KH Muhammad Husain,” ucap Gafur dalam keterangan persnya, Jumat (19/6).

Ia menduga isu  itu diembuskan terkait sengketa wilayah antara Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat. Pulau Malamber, dan pulau-pulau lain yang ada di antara Kaltim dan Sulbar. Awalnya, Abdul Gafur membenarkan bahwa ia mengunjungi Pulau Malamber. Kunjungan tersebut, kata dia, berkaitan dengan program Asosiasi Pemerintah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo).

"Sebenarnya saya sudah jumpa dengan Bapak Gubernur menjelaskan program Aspeksindo tentang satu juta nelayan berdaulat. Bupati Mamuju juga sebenarnya sudah tahu, tapi saya tidak mengerti kenapa isunya aneh-aneh," kata Abdul Gafur kepada wartawan, Jumat (19/6).

Kasus ini mencuat pertama kali dari Camat Balabalakang, Juara, yang mengungkapkan adanya penjualan pulau itu. Dia pun sudah menjalani pemeriksaan. Dalam keterangannya kepada polisi, Juara mengklaim Abdul Gafur Masud sudah membayarkan uang muka sebesar Rp200 juta kepada salah satu warga yang menjual pulau tersebut bernama Rajab. "Ada, Malamber, tidak tahu ukurannya, harganya Rp 2 miliar, DPnya 200 juta sudah diambil, (yang jual) warga di Sumare, namanya Rajab," sebut Juara.

Salah satu pulau dari 12 pulau di gugusan Kepulauan Balabalakang, Kabupaten Mamuju ini, memang punya potensi ekonomi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata.

Apalagi jika nantinya ibu kota negara pindah ke Kalimantan Timur, Pulau Malamber yang secara geografis lebih dekat ke Pulau Kalimantan dianggapnya bisa jadi ladang investasi menjanjikan.

Saat ini, Pulau Malamber telah ditetapkan sebagai pusat konservasi penyu oleh Gubernur Sulawesi Barat. Sebelumnya, ada 12 kepala keluarga (KK) yang menjadikan kawasan ini sebagai pemukiman. Namun, jumlah penghuninya turun drastis karena terjadi abrasi. Kini hanya empat KK yang tinggal di sana.



ARTIKEL TERKAIT