Mengaku tak Menyesal Dipenjara Demi Lindungi Rakyat Indonesia

Siti Fadilah Bicara tentang COVID-19, Flu Burung, dan Teori Konspirasi Vaksin Bill Gates

Mawi, otonominews.co.id
Jumat, 22 Mei 2020 | 15:52 WIB


Siti Fadilah Bicara tentang COVID-19, Flu Burung, dan Teori Konspirasi Vaksin Bill Gates
Mantan Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP. - Foto Istimewa


JAKARTA, (otonominews) - Sejak Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 melanda dunia, nama Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP., pelan-pelan pun mencuat. Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah merupakan orang pertama yang mengingatkan masyarakat Indonesia akan keberadaan mantan Menteri Kesehatan era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.

"Saat ini pemerintah memerlukan pandangan lain tentang virus dan vaksin, bebaskanlah ibu Siti fadilah. Dialah teman bicara yang sebenarnya. Dia yang bisa melihat peristiwa ini dalam kepentingan nasional," cuit Fahri Hamzah saat itu. 

Sekedar informasi, pada tahun 2015, Siti Fadilah Supari disebut terlibat kasus korupsi pengadaan alat-alat kesehatan (Alkes). Beberapa kalangan termasuk Fahri Hamzah mengatakan, Siti Fadilah Supari menjadi korban karena membokar konspirasi WHO dan Amerika Serikat (AS) melalui sebuah buku berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.

"Pada tanggal 6 Januari 2008, Siti Fadilah merilis buku 'Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung' yang berisi mengenai konspirasi Amerika Serikat dan WHO dalam mengembangkan 'senjata biologis' dengan menggunakan virus flu burung," tulis pimpinan Partai Gelora Indonesia itu.

Buku tersebut pun menuai protes dari petinggi-petinggi WHO dan Amerika Serikat.

Tak hanya Fahri Hamzah, Lembaga kegawatdaruratan medis dan kebencanaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) juga turut mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera membebaskan Siti Fadilah Supari. Desakan tersebut karena pengalamannya dalam menghadapi virus flu burung di Indonesia tahun 2005 sangat baik.

Presidium MER-C Yogi Prabowo mengatakan, mantan menkes Siti Fadilah berhasil membuka wawasan bagi negara-negara lain di dunia dalam penanganan virus. Karena itu, sudah selayaknya bangsa Indonesia membebaskan Siti Fadilah Supari untuk membantu menghadapi pandemi COVID-19 yang masih banyak menyimpan berbagai misteri.

Pada akhirnya, Siti Fadilah Supari pun muncul ke permukaan. Bukan karena 'pertolongan' pemerintah, melainkan karena kondisi kesehatannya yang membuat dia harus dirawat di rumah sakit. Kesempatan itulah kemudian yang dimanfaatkan Siti Fadilah untuk bersuara tentang COVID-19, teori konspirasi Bill Gates, hingga solusi tentang pandemi di Indonesia.

Kepada Deddy Corbuzier yang mengunjunginya di salah satu rumah sakit di Jakarta (tidak disebutkan di RS apa -red), Siti Fadilah berbicara blak-blakan tentang alasan dirinya dipenjara, tentang penanggulangan virus flu burung SARS, pandemi COVID-19, hingga permainan taipan dunia terkait vaksin COVID-19.

Perbincangan tersebut kemudian diunggah Deddy Corbuzier di akun Instagram dan video di kanal YouTubenya, Kamis (21/05/2020). Dalam kondisi sakit, Siti Fadilah disebut mengajukan permintaan bertemu Deddy Corbuzier karena ingin menyampaikan beberapa hal. Salah satunya terkait kasus dugaan korupsi yang dituduhkan kepada dirinya.

"Telepon saya berdering. Halo Pak Deddy, saya ibu Siti Fadilah. Iya Pak. Yang dituduh korupsi tapi tak ada bukti itu, Pak. Yang pernah melawan dunia untuk Indonesia," tulis Deddy.

Mendapat telepon dari Siti Fadilah, Deddy Corbuzier mengaku seolah tak percaya. 

"Boleh, ya Pak. Tolong saya ceritakan kisah sebenarnya pada rakyat kita. Saya hanya percaya pada Pak Deddy untuk ini," ucap Siti, seperti diceritakan Deddy Corbuzier.

Ketika Siti Fadilah di rumah sakit, Deddy Corbuzier membuat narasi, "Ibu Siti Fadilah saat ini di rumah sakit dan dipindahkan dari penjara sejak kemarin. Saat malam ketika suara hujan masih menggerutu. Saya menjenguknya di rumah sakit," tulis Deddy Corbuzier.

Siti Fadilah dipindahkan dari Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, ke rumah sakit karena kondisi kesehatannya.

"Saya hari ini dipindahkan dari penjara ke rumah sakit karena saya jatuh sakit. Entah usia saya sampai kapan. Saya bebas empat bulan lagi. Tapi saya takut kalau saja nggak sampai sana usia saya. Bolehkah Pak Deddy Corbuzier jenguk saya dan saya ingin membagi cerita saya Pak," ujar Deddy Corbuzier menirukan Siti Fadilah.

Perbincangan antara Deddy Corbuzier dan Siri Fadilah dibuat sesantai mungkin. Saatb itulah Siti Fadilah mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melakukan korupsi seperti yang dituduhkan. Dia mengaku tidak memakan uang yang disebutkan satu rupiah pun. Bahkan Siri Fadilah mengatakan, ada kekuatan besar yang membuat dirinya harus mendekam di penjara.

"Saya tidak korupsi, Pak. Saya mati untuk bangsa. Sayalah satu-satunya orang di dunia saat yang berhasil menyetop pandemi (H5N1 atau H7N9 atau flu burung -red). Dan saya sekarang di penjara," kata Siti Fadilah.

Siti Fadilah divonis empat tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pindana Korupsi Jakarta pada 2017. Majelis hakim menilai Siti Fadilah Supari terbukti menyalahgunakan wewenang dalam pengadaan alkes dan merugikan negara sekitar Rp6 miliar. Selama persidangan berlangsung, Siti Fadilah kooperatif dan membayar uang sebesar Rp1,35 miliar kepada negara.

“Saya tidak menerima sama sekali. Yang Rp6 M adalah kerugian negara yang disebabkan eselon dua saya,” tegas Siti soal tuduhan tersebut. Siti menceritakan kepada Deddy Corbuzier, bawahannya itu tidak dihukum, tapi Siti justru dihukum karena dianggap membantu si bawahan.

Tak Menyesal Dipenjara



Mantan Menkes Siti Fadilah Supari Saat Berbincang dengan Deddy Corbuzier - Foto: Capture Deddy Corbuzier Chanel YouTube 

Meski pada akhirnya mendekam di penjara, Siti Fadilah Supari sudah mencatatkan prestasi selama menjabat sebagai Menteri Kesehatan periode 2004-2009. Dia berjasa karena berhasil membuktikan, flu burung bukahlah wabah yang bisa menular antar-manusia.

Diketahui, mantan Menteri Kesehatan Indonesia tersebut merupakan orang yang pernah berjuang melawan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berhasil menghentikan pandemi flu burung.

Saat itu dunia memang tengah dilanda oleh virus flu burung yang cukup parah sehingga WHO akan menetapkan status pandemi. Namun dinyatakan bahwa Siti Fadilah tak hanya berhasil menghentikan virus tersebut di Indonesia, tapi juga dunia.

"Musuh saya besar jadi saya kalah, saya bukan salah tapi saya kalah," ujar Siti Fadilah.

Siti menduga negara RI tidak sepenuhnya berdaulat. “Nyatanya lembaga hukum kadang dipakai untuk kekuatan tertentu. Untuk mengatur orang-orang yang tidak mau diatur. Dicari caranya, dibikin perkara,” ucap Siti.

Dia memaparkan dijatuhi vonis tanpa disertai bukti. “Saya dituduh membantu dia, saya dihukum. Tidak ada bukti, tidak ada saksi.” 

Deddy pun penasaran bagaimana tentang pengadilan. “Saat di Pengadilan jaksa penuntut umum bilang, fakta pengadilan kita abaikan. Hakim juga berujar ‘saya tidak perlu bukti’. Sangat tidak fair,” ungkap Siti.

Saat ditanya apakah dirinya tidak bisa diatur, Siti mengaku enggak tahu. Selama dia menjabat sebagai Menteri tidak pernah dipecat. Dia tidak tahu kesalahan apa yang pernah dibuatnya.

Siti lalu menyadari, dijebloskan ke penjara karena suatu hal. “Saya memiliki sikap yang mengakibatkan saya dipenjara. Tapi saya tidak menyesal, karena untuk melindungi rakyat Indonesia," paparnya. 

“Saya berbuat itu bukan untuk saya. Saya dapat apa? kan tidak dapat apa-apa.” Dia bersyukur tindakannya tak cuma melindungi Indonesia, tapi juga dunia. “Pandemi (Flu Burung) itu batal. Kalau dihitung berapa ribu triliun kerugian seluruh dunia (kalau sampai dijadikan pandemi).”

Meski berjasa, Deddy mengucap kalau akhirnya Siti dipenjara. “Ironi. Tapi itulah dunia. Yang penting niat kita, terjadi karena kehendak Allah,” balas Siti. Dia berani lantang karena merasa ada hal penting yang harus disampaikan.

”Saya omongin ilmu yang orang banyak harus tahu. Jangan sampai rakyat tidak tahu sama sekali. Saya hanya sampaikan ilmu pengetahuan dan menurut saya wajib. Kalau saya tahu ada yang tidak baik tapi diam saja, kan dosa,” ujarnya.

Dia kembali menerima nasibnya karena kehendak Tuhan. “Saya tahu, saya bukan salah tapi saya kalah. Ada hikmah di balik mendekamnya saya di balik jeruji besi. Saya seorang Islam. Pilihan Allah adalah yang terbaik. Pasti ada hikmahnya. Dulu Alquran berantakan, sekarang lancar," ungkapnya.

Sempat merasa emosi saat dipenjarakan secara tidak adil, Siti teringat ucapan Karni Ilyas. ‘lebih baik jadi harimau suatu hari daripada jadi kambing setiap hari’. “Sekarang jadi kambing tidak apa,” candanya. Dia mengenang keberaniannya dulu. “Saya enggak hanya bicara,berani kalahkan negara adidaya.”

Pada perbincangan itu, Siti Fadilah juga berbicara tentang teori konspirasi taipan dunia terkait COVID-19. Siti Fadilah menegaskan bahwa sebaiknya Indonesia menolah vaksin COVID-19 yang dipersiapkan oleh Founder Microsoft, Bill Gates dan membuat sendiri di dalam negeri.

Dijelaskan Siti Fadilah, dia merasa ada yang aneh dengan sikap Bill Gates yang sangat bersemangat ketika menyampaikan bahwa akan ada pandemi, jauh sebelum COVID-19 menginfeksi dunia. 

"Ada sesuatu yang aneh untuk saya, ya. Saya ikutin Bill Gates ini di forum ekonomi. Bill Gates jadi pembicara utama. Dia menggebu-gebu, bahwa nanti akan ada pandemi," ujar Siti Fadilah.

Keanehan lain, kata Siti Fadilah, Bill Gates sudah mempersiapkan vaksin dan bahkan juga sudah mengetahui akan ada pandemi COVID-19. "Selama ada pandemi selalu ada vaksin. Kenapa enggak pandeminya yang dihentikan, kenapa mesti dibikin vaksin. Mbok, ya jangan sampai terjadi pandemi," katanya. 

Lebih detail, Siti Fadilah mengungkapkan, Bill Gates bukanlah lulusan kedokteran dan tidak pernah sekolah di Fakultas Kedokteran. Akan tetapi, dia sangat fasih dalam menganalisis dunia akan membutuhkan vaksin dengan jumlah yang banyak. 

Siti Fadilah kemudian menceritakan saat dirinya menolak tawaran vaksin flu burung dari Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO). Ia merasa telah berhasil mereformasi WHO dengan pemikiran bahwa semua negara harus dibantu karena kedudukannya sama. 

"Waktu itu WHO berkoar-koar mengatakan flu burung menular dari manusia ke manusia, sudah disampaikan ke mana-mana seperti kasus Wuhan. Tapi saya enggak mau. Saya akan buktikan virus saya tidak menular ini gambarnya virus saya ini bentuk virus saya," katanya. 

Siti Fadilah menjelaskan jika seandainya Indonesia membeli vaksin flu burung saat itu maka akan sangat berdampak buruk untuk keuangan negara kala itu.

"Nah itu saya protes juga ke PBB. Setop flu burung, saya setop flu burung tidak pakai vaksin, tapi dengan politik. Saat itu vaksinnya mau dijual ke Indonesia, dan kita harus ngutang beli vaksin karena mahal," urai Siti Fadilah Supari. (OTN) 


ARTIKEL TERKAIT