Wamenag: Warga Zona Merah Boleh Beribadah Berjamaah di Masjid Dalam Bentuk Syiar

Husnie, otonominews.co.id
Minggu, 17 Mei 2020 | 05:33 WIB


Wamenag: Warga Zona Merah Boleh Beribadah Berjamaah di Masjid Dalam Bentuk Syiar
Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi


JAKARTA, (otonominews) --  Banyak orang yang tidak menaati fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) ataupun anjuran pemerintah terkait ibadah di tengah pandemi. Maka masyarakat diimbau untuk mengutamakan keselamatan diri dan orang lain.

Demikian dikatakan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi dalam webinar 'Bincang Ramadan: Agama dan Kemanusiaan Pasca Covid-19', Sabtu (16/5/2020).

"Kita tidak boleh membuat diri kita celaka atau mencelakakan orang lain. Prinsip itu yang kita terapkan dalam melaksanakan ibadah," ujarnya.

Disisi lain, Wamenag menyetujui pandangan bahwa masjid tidak harus benar-benar ditutup demi menghindari penularan virus corona (Covid-19). 

Zainut menegaskan, sebenarnya tidak benar kalau semua daerah pelaksanaan ibadah dilarang. Kegiatan masjid di zona merah corona tetap boleh beribadah secara berjamaah di masjid dengan tujuan syiar. 

"Bahkan saya pernah mengatakan untuk di daerah zona merah pun kegiatan ibadah di masjid juga boleh, tapi dalam bentuk syiar Islam, syiar masjid," kata Zainut 

Ibadah yang masih diperbolehkan, jelasnya, seperti azan, tadarus dengan jemaah tidak lebih dari dua orang, ataupun shalat wajib berjemaah yang dilakukan para pengurus masjid.

Sementara warga lainnya di zona merah diminta untuk menjalankan ibadah di rumah. "Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus," kata Zainut.

Zainut juga meminta umat Islam juga diminta tidak berkegiatan di masjid di zona kuning. Sedangkan untuk zona hijau warga diperbolehkan beribadah seperti biasa.

"Tapi dengan memerhatikan protokol kesehatan. Selain itu, atas pertimbangan yang disampaikan oleh pihak yang punya kewenangan untuk itu," terangnya.

Sebelumnya, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo belum bisa memastikan kapan wabah bakal berakhir. Hal ini, kata Doni, sesuai dengan apa yang disampaikan sejumlah ahli di negara-negara lain.

"Tadi dikesankan Pak Doni, tidak ada satu ahli negara manapun yang bisa menegaskan kapan ini berakhir," kata Wakil Sekjen MUI Amirsyah Tambunan mengungkap sebagian isi pertemuan secara virtual untuk membahas kondisi terkini terkait wabah virus corona, Sabtu (16/5).

Apa yang disampaikan Doni, menurut Amirsyah perlu disikapi serius. Sebab, jika corona tak tuntas masalah lain akan timbul, terutama berkaitan dengan perekonomian.

"Nah, adapun soal ekonomi itu akan dengan sendirinya bisa kita diantisipasi jika corona tidak terlalu panjang. Tapi yang kami khawatir jangan sampai Covid-19 ini juga tidak tahu batas waktu kapan berakhir," ucap Amirsyah.

Wakil Ketua Satgas Covid-19 MUI ini menambahkan meski belum diketahui kapan wabah berakhir, yang perlu dilakukan masyarakat tetap berusaha memutus mata rantai penyebaran corona dengan melakukan pencegahan.

"Tapi yang perlu kita lakukan ikhtiar dengan sosial physical distancing. Ini aspek hulu untuk melakukan pencegahan," kata Amirsyah.

Agar dampak corona di Indonesia tidak sampai menjurus ke urusan politik, Amirsyah mengatakan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan corona harus fokus. 


ARTIKEL TERKAIT