BLI KLHK Produksi Disinfektan Berbahan Cuka Kayu dan Bambu

Syarifah , otonominews.co.id
Selasa, 24 Maret 2020 | 12:22 WIB


BLI KLHK Produksi Disinfektan Berbahan Cuka Kayu dan Bambu
BLI KLHK Produksi disinfektan berbahan cuka kayu dan bambu - Foto Ilustrasi

JAKARTA, (Otonominews) - Demi mengantisipasi penyebaran Virus Corona atau Covid-19, Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berhasil memproduksi desinfektan dari cuka kayu dan bambu (asap cair).

Dari hasil Penelitian dan Pengembangan Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) ini, juga diproduksi hand sanitizer dengan formula asap cair (cuka kayu), borneol, etanol, dan gliserol.

Pemakaiannya pun telah diujicobakan di lingkungan kantor dan dibagikan kepada para pegawai di lingkungan perkantoran BLI Kampus Gunung Batu, Bogor.

“Hasil pengujian asap cair kayu dan bambu terhadap kuman dari eksperimen yang dilakukan, cukup hanya dengan satu persen sudah efektif,” ujar Prof Gustan Pari, peneliti P3HH, dalam siaran persnya, Selasa (24/3/2020).

Uji toksisitas asap cair kayu dan bambu sebagai desinfektan, dilakukan bersama Ratih Damayanti dan tim. Riset ini menggunakan mikroorganisme bakteri yang terdapat pada telapak tangan dan udara di Laboratorium Mikrobiologi Hutan-Pusat Litbang Hutan, Bogor.

Hasilnya, asap cair kayu dan bambu dengan konsentrasi satu persen memiliki kemampuan lebih baik dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme dibandingkan etanol (alkohol) 70%, yang selama ini sering dijadikan bahan dasar desinfektan.

“Asap cair yang diproduksi BLI layak dijadikan sebagai desinfektan terutama di tengah kelangkaan produk di pasaran. Ini akan segera diproduksi massal untuk dibagikan ke lingkungan masyarakat yang membutuhkan,” kata Gustan.

Salah satu upaya pencegahan dengan melakukan penyemprotan disinfektan pada sarana prasarana gedung/kantor, menerapkan budaya hidup bersih, dan menjaga lingkungan sekitar.

Menteri LHK Siti Nurbaya pun menyambut baik hasil inovasi BLI KLHK ini. Sebab inovasi ini bisa mengurangi dampak penyebaran virus corona. 

“Semua pihak harus bergotong royong mengupayakan pencegahan virus berbahaya ini,” kata Siti Nurbaya.