Kasus Positif Makin Bertambah, Pemerintah Bakal Tes Corona Massal

Syarifah , otonominews.co.id
Jumat, 20 Maret 2020 | 08:33 WIB


Kasus Positif Makin Bertambah, Pemerintah Bakal Tes Corona Massal
Jubir Pemerintah untuk Covid-19 dr Achmad Yurianto saat melakukan Konferensi Pers di Gedung BNPB, Kamis (19/3/2020) sore.

JAKARTA, (Otonominews) - Jubir Pemerintah untuk Covid-19 dr Achmad Yurianto mengatakan pemerintah dalam waktu dekat akan melaksanakan pemeriksaan Covid-19 secara massal. Tes tersebut dilakukan melalui Rapid Test atau pemeriksaan imuniglobulin sebagai skrining awal.

“Menggunakan pemeriksaan imunoglobulin sebagai upaya tes skrining awal dan bisa dilaksanakan secara massal adalah sebuah keputusan yang baik,” kata dia pada Konferensi Pers di Gedung BNPB, Kamis (19/3/2020) sore.

Metode pemeriksaan virus Corona atau Covid-19 ini memang ada beberapa macam, dilihat dari sensitifitasnya. Untuk virus ini yang paling sensitif adalah pemeriksaan dengan metode molekuler yaitu menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR).

“Beberapa negara sudah melakukan hal ini dan kitapun juga akan melaksanakannya. Tujuannya adalah untuk secepatnya bisa mengetahui tentang kasus positif Covid-19 yang berada di masyarakat,” ungkap Achmad.

Ia menambahkan, nantinya pasien positif akan cukup banyak didapatkan namun tidak seluruhnya dimaknai harus masuk RS.

“Pada kasus positif dengan tanpa gejala atau kasus positif dengan gejala ringan tentunya akan diedukasi untuk melaksanakan isolasi diri atau self isolation yang bisa dilaksanakan secara mandiri di rumah, tentu dengan dimonitoring oleh petugas Puskesmas atau tenaga kesehatan yang sudah disepakati,” jelasnya.

Pemeriksaan secara massal itu harus diikuti dengan langkah-langkah sosialisasi dan edukasi tentang bagaimana melaksanakan isolasi diri. Sudah barang tentu di dalam self monitoring atau pada saat rapid test massal ini akan ditemukan kasus positif disertai gejala-gejala moderat, gejala-gejala sakit yang sedang. Maka tetap harus dilakukan konfirmasi dengan menggunakan PCR.

“Tetap harus dilakukan konfirmasi dengan menggunakan PCR karena ini menjadi penting. PCR memiliki sensitifitas yang jauh lebih tinggi dibanding pemeriksaan rapid,” ujarnya.

“Tapi pemeriksaan rapid ini adalah dalam rangka untuk meyakinkan masyarakat apakah dirinya tertular atau tidak. Ini beberapa langkah yang harus kita lakukan secara terus menerus simultan, dan inilah yang akan menjadi upaya kita di dalam pengendalian penyakit (Covid-19),” tambah Achmad

Dibandingkan pada Rabu (18/3) kasus positif Covid-19 sebanyak 227 di 9 provinsi, kasus positif pada Kamis kemarin mengalami penambahan pesat. 

Penambahan kasus positif Covid-19 di 7 provinsi turut dilaporkan sehingga menjadi 16 provinsi. Itu antara lain, Bali 1 kasus, Banten 27 kasus, DIY 5 kasus, DKI 210 kasus, Jawa Barat 26 kasus, Jawa Tengah 12 kasus, Jawa Timur 9 kasus, Kalimantan Barat 2 kasus, Kalimantan Timur 3 kasus, Kepulauan Riau 3 kasus, Sulawesi Utara 1 kasus, Sumatera Utara 2 kasus, Sulawesi Tenggara 3 kasus, Sulawesi Selatan 2 kasus, Lampung 1 kasus, dan Riau 2 kasus. Sehingga total kasus positif Covid-19 ada 309 kasus.

“Dari jumlah keseluruhan maka ada kasus yang sudah dua kali diperiksa negatif dan dinyatakan sembuh,” lanjut Achmad. 

Sebelumnya pasien sembuh berjumlah 11 orang. Kemudain ada penambahan pasien yang sembuh yakni dari DKI Jakarta berjumlah 4 orang. Total 15 pasien yang dinyatakan sembuh.

Sementara untuk kasus meninggal pun bertambah dari yang sebelumnya 19 orang menjadi 25 orang. penambahan pasien meninggal tersebut terjadi di DKI Jakarta sebanyak 5 orang dan Jawa Tengah 1 orang.

“Angka ini memang masih tinggi. Tapi ini adalah angka yang dinamis yang setiap saat jumlah kasus baru akan bisa meningkat dengan cepat. Mudah-mudahan tidak ada lagi kasus meninggal, artinya persentase ini adalah angka yang posisi pada hari ini. Angka ini akan dinamis dan setiap saat pasti akan berubah,” urainya.

Achmad menyebut beberapa kasus meninggal yang ditemukan adalah rentang usia 45 hingga 65 tahun. Ada satu kasus yg meninggal pada usia 37 tahun.

“Kalau kemudian kita perhatikan faktor yang lain maka hampir seluruhnya memiliki penyakit pendahulu dan sebagian besar adalah diabetes, hipertensi, dan kemudian penyakit jantung kronis. Beberapa di antaranya penyakit paru obstruktif menahun,” tandasnya.