Nelson Pomalingo Genjot PKBM Jadi Solusi Kurangi Angka Kemiskinan di Gorontalo

Syarifah , otonominews.co.id
Rabu, 18 Maret 2020 | 22:29 WIB


Nelson Pomalingo Genjot PKBM Jadi Solusi Kurangi Angka Kemiskinan di Gorontalo
Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo, disela-sela pembukaan pembelajaran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cempaka Desa Tolotio Kecamatan Tibawa, Rabu (18/03/2020).

LIMBOTO, (Otonominews) - Tingginya angka kemiskinan di Kabupaten Gorontalo salah satunya dikarenakan banyak warga yang hanya mengenyam pendidikan hingga jenjang Sekolah Dasar (SD) saja. Tak tanggung-tanggung presentase warga lulusan SD pun mencapai 65 persen di sana. 

Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo, sebelumnya mengungkapkan, kemiskinan di Gorontalo sulit mengalami penurunan karena kurangnya SDM yang berkompeten. Bagaimana tidak, setengah dari populasi warganya hanya mengantongi ijazah SD. 

 “Begitu banyak proses pembangunan, penyaluran bantuan-bantuan dari pusat, provinsi dan Kabupaten ternyata penurunan kemiskinan kita tidak terlalu drastis. Saya sendiri melalui keroyokan semua dinas ternyata hampir satu persen setiap tahun bahkan kepala desa sudah turun tangan tapi tetap hampir satu persen,” jelas Nelson disela-sela pembukaan pembelajaran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cempaka Desa Tolotio Kecamatan Tibawa, Rabu (18/03/2020). 

Kerja keras pemerint mengurangi angka kemiskinan pun seperti jalan di tempat lantaran SDM yang digenjot, pendidikannya masih dibawah, sehingga produktifitasnya rendah. Padahal kata dia, angka pengangguran dibawah dari 3,2 persen, bahkan tahun inj turun menjadi 3,12 persen. 

"Itu tidak sebanding dengan angka kemiskinan yang tidak turun banyak,” kata Nelson.

“Kita tidak menganggur tapi pendapatannya rendah. Kenapa? Karena gajinya rendah, tingkat pendidikan kita di bawah dan tidak profesional dalam bekerja,” sambungnya.

Oleh karena itu, melalui PKBM inilah pemerintah Kabupaten Gorontalo terus mendorong pembelajaran warga.

"Alhamdulillah, tahun lalu warga yang belajar di PKBM hanya 600 orang. Sekarang hampir 2 ribuan peserta pendidik. Jadi, terjadi kenaikan hampir 200 persen dari sebelumnya,” ungkapnya.

Ia pun menegaskan agar PKBM ini terus didorong, agar warga mendapat sertifikat Ijazah. Dengan ijazah itu, bisa dipakai warga sebagai bekal menjadi apa yang dicita-citakan seperti kepala desa, pekerja profesional, polisi, tentara dan sebagainya. 

Kedua, dengan PKBM itu ada kecakapan hidup dan keterampilan. Dengan keterampilan itu masyarakat memiliki kompotensi yang layak dan agar memperoleh upah yang tinggi. Terakhir yang paling penting, adalah pendidikan keluarga. 

“Hari ini anak-anak kita bisa lihat banyak terjerat dengan masalah sosial seperti narkoba, miras, kenakalan remaja dan sebagainya. Tapi kalau kita berikan pendidikan keluarga maka anak-anak itu akan dibina dengan baik oleh orang tuanya. Karena yang masuk di PKBM kebanyakan yang sudah kawin atau sudah berkeluarga dan ini yang saya kira dibekali dari 65 persen tersebut, sehingga pendidikan kita akan lebih baik dari bawah sampai tingkat atas,” tutup Nelson.