Jokowi Didesak Bubarkan BPIP dan Diminta Cek Kejiwaan Yudian Wahyudi

Rayu, otonominews.co.id
Kamis, 13 Februari 2020 | 04:25 WIB


Jokowi Didesak Bubarkan BPIP dan Diminta Cek Kejiwaan Yudian Wahyudi
Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., Saat Dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) - Foto IG BPIP
JAKARTA, (otonominews) - Masih segar dalam ingatan ketika Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., melarang muslimah bercadar di lingkungan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta serta membuat sebentuk tulisan tentang halalnya zina di luar pernikahan.

Larangan muslimah bercadar di lingkungan di mana dirinya menjabat sebagai rektor serta tulisan tentang zina di luar nikah tersebut tak ayal membuat heboh masyarakat Indonesia. Begitu hebohnya dan begitu berpengaruhnya pandangan Yudian Wahyudi tersebut sampai-sampai beberapa universitas pun membuat kebijakan yang sama, muslimah dilarah bercadar.

Publik kembali terusik, ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Yudian Wahyudi sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), menggantikan posisi pelaksana tugas (Plt) Kepala BPIP Hariyono Rabu (05/02/2020).

Seperti ungkapan, 'Anjing Menggonggong, Khafilah tetap Berlalu', itulah kenyataan yang harus diterima masyarakat Indonesia. Bahwa Yudian Wahyudi kini adalah Ketua BPIP dan bahwa keputusan tersebut tak akan ada yang dapat merubah.

Tak lama berselang, setelah dirinya dilantik oleh Presiden Jokowi, Yudian Wahyudi kembali bikin heboh. Namanya kembali jadi trending di jagat media sosial, khususnya Twitter. Betapa tidak, ucapannya dianggap membenturkan antara agama dan Pancasila.



Ucapan Yudian Wahyudi memancing polemik setelah dia berbicara tentang hubungan agama dan Pancasila di salah satu media. Di situ ditulis Yudian menyebut agama jadi musuh terbesar Pancasila.

Dalam keterangan tertulisnya, Yudian mengatakan bahwa Pancasila dan agama tidak saling bertentangan. "Pancasila dan Agama tidak bertentangan. Bahkan saling mendukung," kata Yudian dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Rabu, (12/02/2020).

Yudian mengatakan Pancasila sebagai konsensus tertinggi bangsa Indonesia harus dijaga sebaik mungkin. Pancasila itu, kata dia, agamis karena kelima sila dapat ditemukan dengan mudah dalam kitab suci enam agama yang diakui secara konstitusional oleh NKRI.

Akan tetapi, kata dia, pada kenyataannya, Pancasila sering dihadap-hadapkan dengan agama oleh orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman sempit dan ekstrem. Yudian menilai, orang-orang seperti mereka itulah sebetulnya yang minoritas.

"Dalam konteks inilah, agama dapat menjadi musuh terbesar karena mayoritas, bahkan setiap orang, beragama, padahal Pancasila dan agama tidak bertentangan, bahkan saling mendukung," ujarnya.

Masyarakat kembali terusik dengan pernyataan Yudian Wahyudi tersebut. Tak hanya dari netizen yang 'mewakili' masyarakat kebanyakan, kemarahan pun datang dari kalangan pesohor hingga politikus. Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain salah seorang yang meminta dengan tegas agar Presiden Jokowi mencopot Yudian Wahyudi dari jabatan Kepala BPIP.

Menurut Tengku Zulkarnain, jika permintaan tersebut tidak dilaksanakan, keadaan sudah genting karena dengan mudahnya sekelas Kepala BPIP membenturkan agama dengan Pancasila.

“Jika Pak @jokowi tdk berniat memusuhi Umat Islam anda mesti pecat biang kerok ini. Atau Umat Islam bisa menjadi musuh anda dan Yudian.” ujarnya melalui akun Twitternya, Rabu (12/02/2020).

Tengku Zulkarnain juga mengatakan, Agama dan Umat Islam menjadi bagian paling integral dalam menjaga keutuhan NKRI. “Tidak pernah ada masalah NKRI dengan agama Islam,” kata dia.

“Jangan lengah. Keadaan kini sudah genting. Agama sudah disudutkan secara terang terangan,” ujarnya.

“Dengan ini saya Tengku Zulkarnain meminta seluruh Umat Islam se Indonesia untuk waspada terhadap gerakan dan ocehan si Yudian. Siap dan Waspada…!” tegasnya lagi.

Selain Tengku Zulkarnain,  Sekjen Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Manimbang Kahariady juga angkat suara soal pernyataan Yudian Wahyudi. Manimbang  sangat menyayangkan pernyataan  Yudian Wahyudi yang menyebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila. 

“Sangat disayangkan, BPIP yang diharapkan menjadi  lembaga yang mengemban misi penting untuk pemantapan ideologi Pancasila, kok pemimpinnya malah merendahkan Panncasila,“ ujar Manimbang di Kantor MN KAHMI, Jalan Turi, Jaksel, Rabu (12/02/2020). 

Manimbang mendesak agar Yudian segera mencabut pernyataannya dan memberikan klarifikasi komprehensif atas pernyataannya tersebut. Manimbang mengkhawatirkan kualitas dan karakter pemimpin seperti Yudian Wahyudi akan membuat lembaga BPIP tidak efektif, bahkan berpotensi menjadi alat  kepentingan politik tertentu. 

“Kualitas pemimpin seperti ini bukan akan memantapkan idelogi Pancasila, malah merendahkan," tegasnya.

Jokowi Diminta Cek Kejiwaan Yudian Wahyudi

Tak hanya itu, Politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean bahkan sangat geram dengan pernyataan Yudian Wahyudi yang menyebut Agama musuh terbesar Pancasila.

Ferdinand Hutahaean meminta jangan ada lagi yang membenturkan Agama dengan Pancasila lantaran nilai-nilai agama sudah terdapat dalam sila-sila Pancasila.

“Namanya BPIP, Badan Pembina Ideologi Pancasila. Tapi ketuanya yang seorang Profesor malah menuding AGAMA ADALAH MUSUH PANCASILA. Sepertinya Prof Yudian ini beraliran Komunis hingga menempatkan Agama sebagai musuh Pancasila yg mengakui Ketuhanan,” ujar Ferdinand Hutahaean lewat akun Twitternya, Rabu (12/02/2020).

Ferdinand Hutahaean bahkan meminta Presiden Jokowi kembali mengevaluasi sosok Yudian Wahyudi sebagai Kepala BPIP. “Pak @jokowi, tolong dicek kejiwaan beliau ini masih normal tidak,” kata dia.

Mantan Wakil Ketua DPR RI yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon juga ikut berkomentar pedas dengan menyebut bahwa Yudian Wahyudi tuna sejarah dan tidak mengerti Pancasila karena membenturkan agama dan Pancasila.

Fadli Zon bahkan meminta BPIP sebaiknya dibubarkan karena hanya menimbulkan kekisruhan baru. “Bubarkan sajalah BPIP ini karena justru menyesatkan Pancasila dan mengadu domba anak bangsa,” kata Fadli Zon melalui akun Twitternya, Rabu (12/02/2020).



Desakan Pembubaran BPIP dan PDIP yang Membela

Tak ketinggalan, Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif menyebut, justru Yudian Wahyudi musuh utama dari Pancasila sesungguhnya karena ingin membuang nilai agama dari Pancasila. "Jadi ketua BPIP itu sesungguhnya musuh dari Pancasila, karena mau membuang agama dari Pancasila," kata Slamet, Rabu (12/02/2020).

Slamet menegaskan ucapan Yudian itu semakin membuktikan bobroknya rezim pemerintahan Jokowi saat ini. Sebab, kata dia, Jokowi justru memilih Yudian tak mengerti esensi dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

"Bertambah bukti bobroknya ini rezim, orang yang yang gak ngerti esensi Pancasila jadi Ketua BPIP," tandas Slamet.

Slamet menyatakan Pancasila merupakan warisan dari para ulama pendiri bangsa. Kata dia, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa yang mengandung nilai agama merupakan perjuangan dari para ulama.

Atas polemik tersebut, ia meminta BPIP segera dibubarkan agar tak membuat negara semakin hancur. "Musuh terbesar Pancasila itu yang menafsirkan Pancasila sesuai seleranya. Ayo bubarkan saja BPIP atau negara makin hancur," kata dia.

Di antara banyak yang memghujat dan menyayangkan statement Yudian Wahyudi yang membenturkan agama dengan Pancasila, Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah justru menganggap bahwa pernyataan Ketua BPIP Yudian Wahyudi soal agama dan Pancasila tersebut selip lidah (slip of tongue).

Merujuk pada kalimat keseluruhan, Basarah menilai pernyataan Yudian yang ramai dikritik itu bukan pada substansinya.

"Saya ingin mengatakan slip of tounge statement kepala BPIP, karena kalau saya baca kontennya, content analysis, substansinya dia tidak bermaksud menyebut agama itu musuh Pancasila," ujar Ahmad Basarah di Jakarta, Rabu (20/02/2020).

Politikus PDIP itu mengatakan Pancasila yang telah menjadi ideologi bangsa itu tak mungkin dipertentangkan dengan agama.

"Substansi yang saya tangkap adalah kelompok-kelompok mengatasnamakan agama yang kemudian menolak Pancasila mengganti dengan ideologi-ideologi lain," ujar Basarah.

Basarah yakin dengan latar belakang Yudian sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Kalijaga memiliki pemahaman yang baik terkait seajrah pembentukan Pancasila.

"Kita sama-sama tahu Islam atau agama dengan nasionalisme bukan hanya bersinergi, tapi pancasila adalah sintesis dari paham-paham agama," pungkasnya.