Mengamati Adu Strategi Empat Poros di Pilkada Makassar

Iksan, otonominews.co.id
Rabu, 12 Februari 2020 | 17:06 WIB


Mengamati Adu Strategi Empat Poros di Pilkada Makassar
Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Luhur Priyanto

MAKASSAR, (otonominews) - Pilkada Makassar yang digelar tahun 2020 ini diprediksi bakal berlangsung sengit dengan menyajikan adu strategi dari empat poros. Ketiadaan tokoh baru yang cukup kuat, membuka akses luas untuk para tokoh lama mencoba kembali peruntungan di kontestasi.

"Mereka memanfaatkan betul momentum kepemimpinan transisi untuk mendongkrak elektabilitas. Tanpa menafikan pergerakan elektoral figur-figur baru. Setidaknya sudah ada poros kekuatan yang mulai mengerucut," beber Andi Luhur Priyanto Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Lebih jauh, Andi Luhur mengungkapkan bahwa secara umum, kekuatan tokoh-tokoh lama prospektif di kontestasi Pilkada Makassar ini bisa di bedakan dalam empat poros utama. Figur dalam poros inilah yang berpotensi mencari calon wakil untuk menjadi pasangan kandidat.

"Simulasi paket pasangan biasanya menunggu hasil pergerakan elektoral. Momentum sekarang masih sementara berlangsung upaya peningkatan popularitas," tambahnya.

Andi Luhur menambahkan bahwa empat poros yang bakal adu strategi di Pilkada Makassar yakni poros pertama ada mantan petahana Mohammad Ramdhan Pomanto atau akrab disapa Danny Pomanto (DP). DP dikenal telah memiliki kekuatan elektoral dan kinerja kepemimpinan yang sudah terukur.

"Kekuatan DP masih sangat layak di perhitungkan dengan pengalaman kontestasinya. Meskipun tantangan utama bagi DP adalah di proses kandidasi atau seleksi di partai politik. DP punya pengalaman buruk soal ini. Aksesnya terbatas ke elit partai politik di tingkat nasional," katanya.

Selanjutnya, poros kedua ada Syamsu Rizal atau akrab disapa Deng Ichal (DI) yang juga mantan Wakil Walikota Makassar, Deng Ical dianggap punya keistimewaan untuk menggunakan basis elektoral jejaring politik Ilham Arief Sirajuddin (IAS) yang juga mantan Walikota Makassar.

"Basis politik yang cukup spartan. Tantangan pada Deng Ical juga ada di soal merebut usungan partai politik. Deng Ichal harus punya kekuatan non-politik untuk di usung Partai Golkar dan mencukupkan syarat dukungan partai. Deng Ichal perlu pasangan yang kuat untuk membantunya merebut kendaraan partai politik," bebernya.

Selanjutnya, poros ketiga ada Munafri Arifuddin atau akrab disapa Appi. Munafri Arifuddin dinilai punya pengalaman merebut dukungan elit partai politik. Meskipun jejaring elektoralnya harus lebih kokoh untuk tidak mengulangi peristiwa kemenangan kotak kosong.

"Tantangannya, Appi harus menjaga basis dukungan partai sekaligus memperluas basis dukungan pemilih. Meskipun ia harus juga pandai mengatur posisi para avonturir politik, yang berasal dari kubu lawannya," imbuhnya.

Selanjutnya, untuk poros keempat yakni Irman Yasin Limpo (YL) atau None. None punya pengalaman kontestasi di Pilkada Makassar. Adik kandung  Menteri Pertania itu dinilai paham peta dukungan.

"Hanya saja None harus menaklukkan tantangan sebagai penerus klan YL, yang kali ini tidak lagi bisa memanfaatkan mesin birokrasi," pungkasnya.

Selain itu, Andi Luhur Priyanto mengatakan bahwa di luar figur empat tokoh yang potensial bersaing di Pilkada Makassar. Masih tersedia tokoh yang cukup potensial, terutama untuk posisi sebagai Calon Wakil Walikota. 

Sementara peluang tokoh perseorangan tidaklah cukup prospektif, kecuali  berstatus sebagai kandidat incumbent. Kandidat perseorangan adalah kandidat yang telah kalah dalam perebutan usungan di partai politik.