Menkeu tak Mau Asal Gelontorkan Dana untuk Atasi Kasus Jiwasraya

Rayu, otonominews.co.id
Sabtu, 08 Februari 2020 | 07:24 WIB


Menkeu tak Mau Asal Gelontorkan Dana untuk Atasi Kasus Jiwasraya
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - Foto IG @smindrawati
JAKARTA, (otonominews) - Kasus gagal klaim nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) membuat nama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawai menjadi salah satu pihak yang dimintai pertanggungjawaban. Alasanya tak lain karena, saham perusahaan asuransi jiwa tersebut dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah.

Akan tetapi, sebagai bendahara negara Sri Mulyani menegaskan tak mau asal-asalan menggelontorkan dana untuk mengatasi persoalan Jiwasraya. Ia tidak ingin masyarakat beranggapan jika negara dengan mudah mengatasi permasalahan perusahaan pelat merah dengan menggunakan APBN.

"Kalau tidak, nanti orang akan gampang, oh ini miliknya pemerintah, lalu dirusak-rusak saja. Nanti kemudian kalian akan bilang oh kepercayaan kepada pemerintah rusak, maka menteri keuangan akan bail in memberikan dana," katanya, Jumat (07/02/2020).

Telebih, lanjut Sri Mulyani, kasus Jiwasraya tak sekadar soal kinerja keuangan tetapi juga menyangkut permasalahan hukum. Karenanya, ia mengaku akan menunggu proses hukum berjalan.

Dalam hal ini, ia menyerahkan sepenuhnya kasus hukum kepada pihak yang berwenang yaitu Kejaksaan Agung (Kejagung), Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kementerian keuangan, kata dia, tidak memiliki wewenang dalam ranah hukum.

Kejagung sendiri telah menetapkan enam orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi Jiwasraya. Mulanya, Kejagung menetapkan lima orang tersangka. Mereka adalah mantan Direktur Utama Hendrisman Rahim, Mantan Kepala Investasi dan Divisi Keuangan Jiwasraya Syahmirwan, dan mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo.

Sementara, dua tersangka lainnya dari pihak swasta yakni Komisaris PT Hanson Tradisional Benny Tjokrosaputro dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat.

Pada Kamis (06/02/2020), Kejagung kembali menetapkan satu tersangka baru yakni Joko Hartono Tirto yang merupakan Direktur PT Maxima Integra.

"Jadi di sini ada aspek enforcement (penindakan), kalau memang ada bukti yang sifatnya pidana, ada aspek memenuhi dan menghargai haknya, tapi juga ada aspek corporate governance (tata kelola perusahaan)," ucapnya.

Sebelumnya, sebanyak 50 nasabah korban gagal bayar Jiwasraya mendatangi kantor Sri Mulyani pada Kami (06/02/2020). Kunjungan mereka bertujuan untuk menuntut negara bertanggungjawab atas hak nasabah.

Nasabah juga melayangkan surat kepada bendahara negara. Tak hanya Kementerian Keuangan, rombongan juga mendatangi Kantor OJK pada hari yang sama. Serupa, mereka juga melayangkan surat kepada Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

Belakangan, permasalahan Jiwasraya memang menyedot perhatian khalayak. Ekuitas perusahaan asuransi jiwa pertama di Indonesia itu minus Rp27,24 triliun pada akhir 2019 lalu. Untuk menyehatkan kembali Jiwasraya membutuhkan dana sebesar Rp32,89 triliun. Perseroan juga memiliki tunggakan klaim jatuh tempo dalam jumlah fantastis, yaitu Rp16 triliun.