Bantu Dana Pembangunan Rumah Adat Toraja Di Merauke, Bupati Freddy: Kami Melayani Semua Suku

Mawi, otonominews.co.id
Minggu, 16 Agustus 2020 | 15:49 WIB


Bantu Dana Pembangunan Rumah Adat Toraja Di Merauke, Bupati Freddy: Kami Melayani Semua Suku
Bupati Merauke Frederikus Gebze meletakkan batu pertama pembangunan Tongkonan (rumah adat Toraja) di Jalan Onggatmit, Sabtu (15/8/2020)

MERAUKE (otonominews) – Bupati Merauke menghadiri peletakan batu pertama pembangunan rumah Tongkonan (rumah adat Toraja) oleh Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Kabupaten Merauke, Papua di Jalan Onggatmit, Sabtu (15/8/2020) kemarin.

Pada kesempatan itu, Frederikus Gebze didampingi istri tercinta Rini Dewarusi Nebore.

Kegiatan itu juga dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, ketua paguyuban dan warga IKT. Selain itu kegiatan itu juga dihadiri sejumlah bakal calon Bupati Merauke.

Bupati Freddy, panggilan akrab Frederikus Gebze, tampak menjukkan sikap yang akrab dan ramah, dengan tiga bakal calon bupati yang hadir.

Di tengah suhu politik yang panas, bahkan sampai terjadi penzoliman oleh partai yang pernah dipimpinnya terhadap dirinya, Freddy tampak tetap mampu menahan diri dan bersikap sebagai seorang negarawan.

Bupatu Freddy pada kesempatan itu mengatakan bahwa pemerintah berkewajiban menjaga stabilitas pembangunan dengan melayani semua suku yang tinggal Kabupaten Merauke.

“Inilah rumah peradaban, identitas, jati diri IKT di tanah rantau. Pemda tidak tinggal diam dengan memberikan dukungan dana,” bebernya.

Frederikus Gebze juga menjelaskan bahwa saat ini pemerintah gencar memperkenalkan dan menyiapkan daerah Merauke sebagai daerah pariwisata. Bahkan Frederikus mengaku beberapa rumah adat yang sudah dibangun tidak luput dari pantauan Pemerintah.

Sebagai seorang nasionalis, Frederikus Gebze tentunya mendukung dan mensupport semua suku yang tinggal di Papua. Menurutnya, dengan jiwa nasionalisme dan semangat semboyan Bhineka Tunggal Ika, ia optimis pembangunan di Merauke bisa berjalan sesuai harapan.

Frederikus juga bercita-cita, semua suku yang sudah tinggal dan berkarya di atas tanah Marind sukses sehingga bisa bahu membahu dalam pembangunan.

"Salah satunya memberikan sumbangsih atau ikut membangun rumah adat Marind.

"Setelah semua rumah adat dibangun, semua harus bersatu membangun rumah orang Marind sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada masyarakat Marind,” ajaknya.

Diketahui, rumah Tongkonan tersebut merupakan bangunan pertama sejak tahun 60an, pada saat itu, masyarakat Toraja mulai berdomisili di Merauke. Puluhan tahun lamanya mereka punya harapan untuk mempunyai rumah bersama dan impian ini mulai terwujud di masa pemerintahan Frederikus Gebze.

Ketua Pembangunan Tongkonan, Leo Patriamogot mengatakan, biaya pembangunan gedung tongkonan diperkirakan sebesar Rp6 miliar rupiah. Dengan luas bangunana utama 25 kali 50 meter persegi kapasitas 1000 orang. Selanjutnya menata halaman, tempat parkir dan asesosris, serta pagar keliling dari beton.

“Dana yang sudah terhimupun sekitar dua miliar lebih, bersumber dari bantuan Pemda Kabupaten Merauke, hasil sumbangan donatur warga IKT, sumbangan kelompok arisan rutin setiap bulan,” sebutnya.

Berikut, Ketua IKT Merauke, Yansen Banni mengatakan, bangunan tongkonan sebagai rumah adat, dan lambang identitas suku Toraja. 

"Tongkonan punya arti yang sangat dalam, ibaratkan sebagai ibu yang mengayomi anak-anaknya. Kami harapkan perhatian pemerintah ke depannya untuk bisa menyelesaikan pembangunan ini," pinta Ketua IKT.